WEST PAPUA LIBERATION ORGANIZATION

Manokwari - Papua Barat. Email: admin@oppb.org; URL: www.oppb.webs.com; www.oppb.org

Artikel Papua

Artikel Papua Barat

view:  full / summary

LAPORAN TAHUNAN WPLO TAHUN 2013

Posted on January 21, 2014 at 4:05 PM Comments comments (0)

Writen by: John Anari, ST


Dalam rangka menggapai MisiOrganisasi, maka WPLO mengambil berbagai cara untuk menempuh target Hak SelfDetermination bagi bangsa Papua Barat secara menyeluruh. Langkah-langkah yangdilakukan pertama kali yaitu mencari berbagai informasi tentang Sejarah PapuaBarat dari berbagai media. Baik melalui media Cetak, Elektronik, maupunsaksi-saksi yang masih hidup untuk diwawancarai.

Dengan adanya dokumen-dokumentersebut maka selanjutnya dirangkum untuk disusun dalam bentuk sebuah bukuilmiah secara berurutan mulai dari awal terbentuknya pulau Papua, pendudukanpulau Papua pertama kali oleh Rumpun Negroid Papua, serta Pendudukan olehbangsa bangsa asing mulai dari Arab, China, Spanyol, Portugis, Belanda, Jepang,Sekutu, Belanda dan Indonesia.

Dari hasil Dokumen Buku yangdiberi judul “Kegagalan Dekolonisasi Papua dan Illegal Referendum di PapuaBarat” karya John anari, ST mampu membuka wawasan Jati Diri Bangsa Papua Baratsehingga banyak orang Papua baru tahu Sejarah Bangsanya sendiri yang telahdilenyapkan selama 50 tahun.

Selain Buku, WPLO juga telahmemproduksi Film Dokumenter Papua Barat yang diberi judul “KegagalanDekolonisasi Papua Barat”. Kedua dan buku ini kemudian dipublikasi lagi melaluiwebsite resmi WPLO di www.oppb.webs.comdan www.oppb.org serta berbagai video dipublikasilewat Youtube dan Facebook.

Tujuannya yaitu untuk sosialisasiSejarah Papua Barat kepada orang asli Papua dan para simpatisan pro Papua untukmenentukan nasibnya sendiri.

Selain langkah ini, WPLO jugamensosialisasikan organisasi WPLO ke masyarakat melalui baju seragam WPLO danStiker-stiker serta Buletin.

Selain itu, untuk menggapai MisiWPLO maka semua Dokumen itu diajukan ke PBB melalui Sidang Forum Tetap PBBuntuk Masyarakat Penduduk Asli (UnitedNations Permanent Forum on Indigenous Issues - UNPFII) dan Sidang Dewan HAMPBB di Genewa (Universal Periodic Reviewon Human Rights Concerning International Covenant on Civil and Political Rights)yang dipimpin langsung oleh Ketua Dewan HAM PBB (United Nations Human Rights Council).

Sebelumnya WPLO terlebih dahulumendaftarkan diri di UN ECOSOC (UnitedNations Economic and Social Council) atau Dewan Ekonomi PBB untukmendapatkan Ground Pass United Nations (Akses Masuk ke Gedung PBB) sertamengakreditasi WPLO di UN ECOSOC supaya dapat menghadiri berbagai SidangPenting dari PBB.

 

Langkah pertama kali ke Gedung PBByaitu dimulai dengan mengirim Diplomat Ben Kaisiepo dan Tina Thesia pada SidangUNPFII tanggal 16-27 Mei 2011 untuk menghadiri Undangan Pelapor Khusus PBBuntuk Penduduk Asli (United Nations SpecialRaporteur on Indigenous Peoples) Prof. James Anaya di Markas Besar PBB NewYork-Amerika Serikat. Dokumen Ringkasan Buku yang berjudul “Debacle of Decolonization and Illegal SelfDetermination” yang ditulis oleh John Anari, ST diterima Beliau dan ia punterkejut melihat foto-foto documentasi proses Dekolonisasi Papua yang gagalakibat Politik Perang Dingin dan campur tangan Amerika dibawah Komando PresidenJohn. F. Kennedy untuk menguasai Mineral di Gunung Grasberg, Timika-Papua. MakaBeliau berkata bahwa dokumen ini akan disampaikan kepada Sekretaris Jenderal(SEKJEN) PBB Ban Ki-moon untuk ditindak-lanjuti. Maka pada bulan Agustus 2011,untuk pertama kalinya seorang no. 1 PBB mulai mengangkat bicara ”PersoalanPapua akan dibuka kembali ke Komisi Dekolonisasi bahwa apakah Papua NegaraMerdeka atau termasuk Daerah yang Belum Berpemerintahaan Sendiri (Non Self Governing Territory)?”.

Kemudian di Sidang UNPFIIberikutnya Bulan 7-18 Mei 2012 para delegasi WPLO Charles Johnson danOktovianus Mote kembali mempertanyakan janji Prof. James Anaya lalu Beliauberkata bahwa mereka telah mengirim Surat ke Pemerintah Indonesia untuk memintaIjin turun ke Papua tetapi surat tersebut tidak direspon hingga tahun 2012.Maka Beliau berkata bahwa nanti kami akan mengambil langkah lain untukpersoalan penyelesaian Papua sehingga setelah selesai Sidang maka dibentuklaTeam Studi Dekolonisasi Pasifik yang diketuai oleh DR. Valmaine Toki dari anggotaUNPFII. Maka Team Studi ini mulai mengambil data Dekolonisasi Pasifik untuk dilaporkanpada Sidang berikutnya bulan 20-31 Mei 2013 maka DR. Valmaine Toki meminta DataPapua kepada Pimpinan WPLO John Anari, ST menyangkut Status Dekolonisasi PapuaBarat sehingga Beliau merekomendasikan empat wilayah dari Pasifik untukdikembalikan ke Daftar Dekolonisasi yaitu Hawaii, French Polynesia (Tahiti),New Caledonia (Kanaky) dan West Papua (Papua Barat).

 

Rekomendasi ini akan diproseslanjut lagi hingga ke Mahkama PBB untuk dibahas kembali seperti apa yang SEKJENPBB Ban Ki-Moon berkata di Pembukaan Pacific Island Forum pada Agustus 2011yaitu “Apakah Papua Negara Merdeka atau salah satu wilayah yang belumberpemerintahan sendiri (Non SelfGoverning Territory).

 

Rekomendasi DR. Valmaine Tokiuntuk Papua Barat terdiri dari point 46-52, yaitu:

 

46.  Penduduk Asli Papua Barat berjuang untuk memperoleh Kemerdekaan danHak Penentuan Nasib Sendiri. Kebutuhan mendesak untuk mengatasi masalah merekaakan meningkat oleh laporan kekerasan, seperti yang tercantum dalam laporanKelompok Kerja Universal Periodic Review pada Juli 2012 (A/HRC/21/7).

47.  Menurut Akihisa Matsuno, seorang profesor di Osaka Sekolah KebijakanPublik Internasional yang mengkhususkan diri di Indonesia, apa yang terjadi diPapua Barat adalah genosida, baik fisik dan budaya. Ia mengatakan, palingSetidaknya, itu adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dalam hal penghancuransistematis penduduk sipil yang disengaja, diperluas dan berkelanjutan.

48.  Ini ketidakadilan saat memberikan alasan tambahan untuk mendukungklaim kemerdekaan, klaim yang memiliki akar dalam kesalahan sejarah. Pertamakolonisasi adalah pada tahun 1828, ketika Belanda menguasai wilayah itu. Padatahun 1944, itu disepakati bahwa Administrasi New Guinea Barat (Belanda Nugini)akan ditempatkan pada daftar Wialayah Tak Berpemerintahan Sendiri.

49.  Pada bulan Januari tahun 1961, pemilihan Dewan New Guinea diadakan.Namun demikian, Persetujuan antara Republik Indonesia dan Kerajaan Belandatentang West New Guinea (Irian Barat) telah ditandatangani pada Agustus 1962,untuk memperdagangkan West New Guinea ke Indonesia. Aplikasi ini ditunda tujutahun ke Komisi Khusus Dekolonisasi.

50.  Ada alasan yang jelas untuk Majelis Umum untuk mendukung pemulihanpada daftar Wilayah Tak Berpemerintahan Sendiri. Pertama, Papua Barat telahpuas dengan Kriteria yang ditetapkan dalam resolusi 1541 (XV). Kedua, hal itutelah menampilkan awalnya pada daftar. Ketiga, hak penentuan nasib sendiri yangdiartikulasikan dalam pasal 3 Deklarasi PBB tentang Hak-Hak Penduduk Asli.

51.  Mengingat pelanggaran hak asasi manusia, urgensi dianjurkan. Itusignifikansi pelanggaran HAM berat seperti kematian dan diskriminasi abadimembutuhkan tindakan. Penduduk Asli Papua Barat bahkan tidak bisa mengibarkanbendera mereka atau bertemu dalam jumlah besar tanpa pembalasan yang melanggarbanyak hak asasi manusia yang diabadikan dalam Deklarasi. Deklarasi tersebutmungkin menawarkan jalan menuju rekonsiliasi di banyak contoh Ulasan sini.

 

Naskah Asli Rekomendasi DR. Valmaine Toki dapat didownload pada linkPBB:

 

English:

http://www.un.org/Docs/journal/asp/ws.asp?m=E/C.19/2013/12

 

Indonesia:

http://oppb.webs.com/REKOMENDASI%20VALMAINE%20DI%20UNPFII.pdf

 

DEKLARASI PBB TENTANG HAK-HAK PRIBUMI

Posted on June 27, 2013 at 3:05 PM Comments comments (0)

SEJARAH PERKEMBANGAN LAHIRNYA DEKLARASI PBB TENTANG HAK-HAK PENDUDUK ASLI (PRIBUMI).

Writen by John Anari, ST

Translate by Ronald Waromi


 Masyarakat   Pribumi   (Bahasa   Inggris:   Indigenous   Peoples)   adalah sekelompok   masyarakat   yang   hidup   di   suatu   tempat   sebelum   adanya kedatangan bangsa-bangsa luar. 

Mereka  memiliki  hak  atas  tanah  dan  kekayaan  alamnya  sebagai  peninggalan dari Nenek Moyang mereka.

Diperkirakan ada sekitar 300 (Tiga Ratus) Juta Indigenous Peoples (IP) yang menempati wilayah permukaan bumi ini, seperti Penduduk Pribumi Aborigin dari Australia, Penduduk Pribumi Indian dari Amerika, dll. Tuhan  telah  menciptakan  manusia  dan  memberi  tempat  kepada  mereka masing-masing  namun  bagi  mereka  yang  memiliki  banyak  kekayaan  alam akan menjadi rebutan setiap bangsa-bangsa seperti tertulis dalam kita Ulangan di atas.

     Menurut dua orang Pendeta Spanyol (Fransisco Victoria dan Bartholomeo) yang  berlayar  bersama-sama  dengan  para  Penakluk  Dunia  (Conquistadores), mereka menyatakan bahwa Penduduk Asli Amerika memiliki Hak yang sama seperti  kami  bangsa  Spanyol  karena  pada  waktu  itu,  mereka  (bangsa  Eropa) manganggap bahwa orang-orang di luar mereka adalah orang-orang yang tidak beradab (Uncivilized) untuk dijadikan sebagai objek jajahan. Dan hingga saat ini  pun,  banyak  orang  kulit  putih  menganggap  bahwa  orang  kulith  hitam adalah orang-orang yang tidak beradab juga.

     Apa  yang  dikatakan  oleh  mereka  berdua  terus  menggema  dalam  sejarah dunia sehingga pada tahun 1948, Masyarakat Internasional telah menyepakati disusunnya  Deklarasi  Universal  Hak  Asasi  Manusia  secara  Umum  pada tanggal 10 Desember 1948 untuk penghapusan Penjajahan di muka bumi.  Namun  pada  kenyataannya,  ternyata  masih  ada  beberapa  daerah  yang  masih  merasa  terjajah  walaupun  setelah  terbentuknya  Perserikatan  Bangsa-Bangsa (United Nations) dan Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-hak Asasi Manusia (United Nations Universal  Declaration on Human Rights).  

Mereka yang merasa terjajah ini umumnya adalah Masyarakat Pribumi karena tenaga  mereka  dipakai  sebagai  pekerja  paksa  demi  kepentingan  negaranya. Oleh   sebab   itu,   UN   of   ILO   (United   Nations   of   International   Labour Organization)   atau   Organisasi   Buruh   Internasional   Perserikatan   Bangsa Bangsa   (PBB)   berusaha mengkondisifikasikan   hak-hak   Penduduk   Asli (Indigenous Peoples), khususnya yang berhubungan dengan ketenaga kerjaan.

Instrument  yang  pertama  kali  disusun  oleh  UN  of  ILO  tentang  subyek  ini adalah  Indigenous  and  Tribal  Population  Convention  No.  107  Tahun  1957. Konvensi  ini  memuat  hak-hak  Indigenous  Peoples  (IP)  atas  Tanah  mereka, Kondisi  Kerja,  Kesehatan,  dan  Pendidikan  Masyarakat  Pribumi.  Hingga  kini tercatat  lebih  dari  27  Negara  yang  meratifikasikan  Konvensi  ini.  Kemudian dilengkapi  lagi  dengan  Convention  No.  169    yang  lebih  menegaskan  bahwa cara hidup IP harus dipertahankan. Selain itu juga menegaskan bahwa IP dan lembaga-lembaga   mereka   harus   dilibatkan   dalam   segala   keputusan   dan perencanaan  pembangunan  yang  akan  mempengaruhi  hidup  mereka.  Hingga kini sudah lebih dari 10 negara yang meratifikasikan konvensi ini. Oleh karena itu, UN of ILO membentuk dua bidang konsentrasi untuk membantu IP  yaitu Indisco Programme (Untuk membantu peningkatan ekonomi IP) dan Political and  Human  Rights  (Untuk  membantu  penyelesaian  masalah-masalah  Politik dan  Hak  Asasi  Manusia).  Instrument  hukum  internasional  lain  yang  sedikit  menyinggung  tentang  hak-hak  IP  adalah  Convention  on  Biodiversity  Tahun 1992. Konvensi ini lebih menekankan pemanfaatan pengetahuan, inovasi, dan teknik-teknik   tradisional   untuk   melestarikan   keanekaragaman   biologis.

Penjabaran  selanjutnya  dari  Deklarasi  Umum  tentang  Hak  Asasi  Manusia untuk    melindungi    hak-hak    masyarakat    Pribumi    yaitu    dikeluarkannya International    Convention    on    Civil    and    Political    Rights    (Perjanjian Internasional  tentang  Hak-hak  Sipil  dan  Politik)  tahun  1966. (27)

Konvensi  ini cukup  signifikan  dalam  konteks  perlindungan  terhadap  hak-hak  Masyarakat Pribumi. Kemudian dengan Resolusi President Majelis Umum PBB (General Assembly Resolution)   no.   49/214   tanggal   23   Desember   1994   memutuskan   untuk perayaan Hari Internasional Masyarakat Pribumi setiap tanggal 9 Agustus dan tahun 1994 adalah sebagai Tahun Internasional Pribumi.

     Kemajuan yang lebih dasyat lagi yaitu setelah dibentuk Working Group on Indigenous  Population  (WGIP)  dibawah  Komisi  HAM  PBB  (United  Nation Organization  High  Commissioner  for  Human  Rights)  sehingga  melahirkan United  Nations  Permanent  Forum  on  Indigenous  Issues  (UN  of  PFII)  yang disahkan  pada  tanggal  28  Juli  2000  oleh  Dewan  Ekonomi  dan  Sosial  PBB (United  Nation  of  Economic  and  Social  Council)  dengan  Resolusi  No. 22/2000. Amanat Forum Permanent ini adalah untuk membahas isu-isu yang  berhubungan  dengan  Pembangunan,  Ekonomi,  Sosial,  Budaya,   Pendidikan, Lingkungan  Hidup,  Kesehatan  dan  Hak  Asasi  Manusia  Pribumi.  Sidang Pribumi di forum Permanent PBB (UN of PFII) pertama diadakan pada bulan Mei Tahun 2003 di Markas Besar PBB. Sidang ini akan diadakan setiap tahun setiap  bulan  Mei  langsung  di  Markas  Besar  PBB,  New  York  –  Amerika Serikat.

     Instrument  yang  komprehensif  tentang  perlindungan  hak-hak  IP  dimuat  dalam United Nations Draft Declaration on The Rights of Indigenous Peoples (Deklarasi PBB tentang Hak-hak Masyarakat Pribumi) yang berhasil disusun pada  tahun  1994  oleh Sub-Commission  on  Protection  of  Discrimination  and Promotion  of  Minority  (Sub  Komisi  Pencegahan  Diskriminasi  dan  Promosi Kaum  Minoritas).  Sub  Komisi  ini  berada  di  bawah  UN  of  OHCHR  (United Nations   of   Organization   High   Commissioner   for   Human   Rights)   atau Organisasi Komisi Tinggi HAM PBB yang berkedudukan di Genewa, Swiss.

Draft  Deklarasi  ini  telah  berhasil  disahkan  pada  tanggal  23  September  2007 pada Sidang Umum PBB ke-61 di Markas Besar PBB, New York – Amerika Serikat dengan Keputusan Majelis Umum PBB No. A/Res/61/295 yang terdiri  dari 46 Pasal.

     Deklarasi  PBB  tentang  Hak-hak  Pribumi  berhasil  dengan  suara  terbanyak 144  Negara  mendukung,  4  menolak,  dan  11  abstain.  Ke-4  negara  yang menolak  adalah  Negara  bekas  koloni  Inggris  yaitu  Amerika,  Australia, Selandia  Baru  dan  Canada.  Negara-negara  yang  abstain  adalah  Azerbajian, Bangladesh,  Bhutan,  Burundi,  Kolombia,  Georgia,  Kenya,  Nigeria,  Rusia, Samoa, dan Ukraina. Sedangkan 43 Negara Anggota PBB lainnya tidak hadir  dalam pemungutan suara tersebut.

 Download Deklarasi di sini: 

http://www.un.org/esa/socdev/unpfii/documents/UNDRIP_Bahasa_Indonesian.doc


Footnote:                                                

27

 Arie Siswanto (Dosen   Hukum Internasional Universitas Kristen Satya Wacana – Salatiga). Bahan Diskusi  Sehari  di  Forum  Solidaritas  Mahasiswa  Irian  Jaya  (FOSMI)  Salatiga  tentang  Haka-hak Masyarakat Asli Dalam Perspektif Hukum International. Hal. 7.

 


Rekomendasi PBB Untuk Papua Barat

Posted on May 31, 2013 at 7:15 AM Comments comments (8)

 

Sidang Forum Permanent PBB untuk Masyarakat Pribumi

Sidang Ke-12

New York, 20-31 May 2013

Agenda provisional Item 8

Program  Kerja  Ke  Depan  dari  Forum  Permanent,  termasuk  issue  Ekonomi  dan  Dewan  Sosial  dan  Issue darurat

 

Studi Penjajahan di Wilayah Pasifik

Catatan oleh Sekretariat

Berdasarkan  keputusan  dari  Forum  Permanen  untuk  Penduduk  Asli  di  sidang  kesebelas  (lihatE/2012/43,  para.  110),  Valmaine  Toki,  anggota  Forum,    melakukan  studi  tentang  dekolonisasiwilayah Pasifik, yang dengan ini disampaikan kepada Forum pada sesi kedua belas.

 


WEST PAPUA

46. Penduduk Asli Papua Barat berjuang untuk memperoleh Kemerdekaan dan Hak Penentuan Nasib Sendiri.  Kebutuhan  mendesak  untuk  mengatasi  masalah  mereka  akan  meningkat  oleh  laporan kekerasan,  seperti  yang  tercantum  dalam  laporan  Kelompok  Kerja  Universal  Periodic  Review pada Juli 2012 (A/HRC/21/7).

47. Menurut  Akihisa  Matsuno,  seorang  profesor  di  Osaka  Sekolah  Kebijakan  Publik  Internasional yang mengkhususkan diri di Indonesia, apa yang terjadi di Papua Barat adalah genosida, baik fisik dan  budaya.  Ia  mengatakan,  paling  Setidaknya,  itu  adalah  kejahatan  terhadap  kemanusiaan dalam    hal    penghancuran    sistematis    penduduk    sipil    yang    disengaja,    diperluas    dan berkelanjutan. [13]

48. Ini  ketidakadilan  saat  memberikan  alasan  tambahan  untuk  mendukung  klaim  kemerdekaan, klaim yang memiliki akar dalam kesalahan sejarah. Pertama kolonisasi adalah pada tahun 1828, ketika Belanda menguasai wilayah itu. Pada tahun 1944, itu disepakati bahwa Administrasi New Guinea  Barat  (Belanda  Nugini)  akan  ditempatkan  pada  daftar  Wialayah  Tak  Berpemerintahan Sendiri.

49. Pada  bulan  Januari  tahun  1961,  pemilihan  Dewan  New  Guinea  diadakan.  Namun  demikian, Persetujuan  antara  Republik  Indonesia  dan  Kerajaan  Belanda  tentang  West  New  Guinea  (Irian Barat) telah ditandatangani pada Agustus 1962, untuk memperdagangkan West New Guinea ke Indonesia. Aplikasi ini ditunda tuju tahun ke Komisi Khusus Dekolonisasi.  

50. Ada  alasan  yang  jelas  untuk  Majelis  Umum  untuk  mendukung  pemulihan  pada  daftar  Wilayah Tak Berpemerintahan Sendiri. Pertama, Papua Barat telah puas dengan Kriteria yang ditetapkan dalam resolusi 1541 (XV).  Kedua, hal  itu  telah menampilkan awalnya pada  daftar. Ketiga, hak penentuan  nasib  sendiri  yang  diartikulasikan  dalam  pasal  3  Deklarasi  PBB  tentang  Hak-Hak Penduduk Asli.

51. Mengingat pelanggaran hak asasi manusia, urgensi dianjurkan. Itu signifikansi pelanggaran HAM berat  seperti  kematian  dan  diskriminasi  abadi  membutuhkan  tindakan.  Penduduk  Asli  Papua Barat bahkan tidak bisa mengibarkan bendera mereka atau bertemu dalam jumlah besar  tanpa pembalasan  yang  melanggar  banyak  hak  asasi  manusia  yang  diabadikan  dalam  Deklarasi.  Deklarasi tersebut mungkin menawarkan jalan menuju rekonsiliasi di banyak contoh Ulasan sini.

 

 Foot Note:                                                        

13     Marni Cordell, “Does West Papua have a publicity problem?”, 3 March 2011. Available from  

http://newmatilda.com/2011/03/0 3/does-west-papua-have-publicity-problem.

 


Link Untuk Download Naskah Rekomendasi :

Link Bahasa Inggris:

http://www.un.org/Docs/journal/asp/ws.asp?m=E/C.19/2013/12

 

Link Bahasa Indonesia: 

http://oppb.webs.com/REKOMENDASI%20VALMAINE%20DI%20UNPFII.pdf


STATUS QUO PAPUA DALAM NKRI

Posted on May 14, 2013 at 4:50 AM Comments comments (0)

STATUS QUO PROVINSI PAPUA & PAPUA BARAT DALAM NKRI

Ditulis oleh: John Anari, ST, Amd. T


INDONESIA TIDAK MEMILIKI DASAR HUKUM YANG KUAT UNTUK MEMPERTAHANKAN WILAYAH PAPUA BARAT MILIKNYA.

PAPUA MERUPAKAN WILAYAH TAK BERPEMERINTAHAN SENDIRI (NON SELF GOVERNING TERRITORY) SEJAK DIBENTUKNYA PBB PADA OKTOBER 1945. PAPUA DIDAFTARKAN PADA DEWAN KEPERCAYAAN (TRUST TERRITORY) SEBAGAI NON SELF GOVERNING TERRITORY) PADA DESEMBER 1945 DI PBB. OLEH SEBAB ITU, PENJAJAH2 DI WILAYAH PASIFIK SEPERTI BELANDA, AMERIKA, INGGRIS DAN PERANCIS WAJIB MEMPERSIAPKAN WILAYAH2 PASIFIK YANG TIDAK BERTUAN (NON SELF GOVERNING TERRITORY) UNTUK MERDEKA. AKHIRNYA PENJAJAH2 INI MENCETUS PERJANJIAN CANBERRA PADA TANGGAL 6 FEBRUARI 1947 DI AUSTRALIA UNTUK MEMBENTUK SOUTH PACIFIC COMMISSION (SPC) YANG KINI DIKENAL DENGAN NAMA PACIFIC ISLAND FORUM (PIF). DALAM PASAL 2 PERJANJIAN CANBERRA SECARA JELAS MENYATAKAN BAHWA BATAS SPC DI BAGIAN BARAT MELIPUTI NETHERLANDS NEW GUINEA (WEST PAPUA).

NAMUN AKIBAT PERANG DINGIN, MAKA AMERIKA MEMBANTU INDONESIA MEREBUT ADMINISTRASI PAPUA DARI TANGAN BELANDA SECARA PAKSA MELALUI PERUNDINGAN2 RAHASIA YANG TIDAK MELIBATKAN ORANG ASLI PAPUA BARAT.

PROSES CONTROL ADMINISTRASI SECARA PAKSA INI MENYEBABKAN INDONESIA MEMBERIKAN OTSUS PERTAMA TAHUN 1963 KEMUDIAN DICABUT LALU DIGANTI DENGAN REPELITA (RENCANA PEMBANGUNAN LIMA TAHUN). SETELAH PELAKSANAAN JAJAK PENDAPAT (PEPERA TAHUN 1969), REPELITA DICABUT LALU DIGANTI OTSUS MELALUI UU RI NO. 12 TAHUN 1969. UU INI TIDAK PERNAH DICABUT, TETAPI DIMUNCULKAN YANG BARU MENINDIS UU NO. 12 TAHUN 1969 YAITU UU OTSUS NO. 21 TAHUN 2001.

OTSUS INI KEMUDIAN DICABUT LAGI MELALUI UU OTSUS NO.35 TAHUN 2008 DAN HASILNYA PUN NIHIL KEMUDIAN DIGANTI LAGI MELALUI UP4B (UNIT PERCEPATAN PEMBANGUNAN PAPUA DAN PAPUA BARAT). UP4B PUN KINI SUDAH SIAP DICABUT DAN DIGANTI LAGI MELALUI OTSUS PLUS TAHUN 2013.

DARI HASIL DI ATAS JELAS TERLIHAT STATUS QUO WILAYAH PAPUA BARAT DALAM NKRI KARENA PROVINSI INI TIDAK DISAHKAN MELALUI UNDANG2 RI SEPERTI PROVINSI LAIN DI INDONESIA TETAPI HANYA DISAHKAN MENJADI PROVINSI 26 DAN 33 MELALUI PENPRES NO.1 TAHUN 1963 DAN INPRES NO.1 TAHUN 2003.

OLEH SEBAB ITU, PENCURIAN, PEMBUNUHAN, GENOSIDA, MANIPULASI, KORUPSI, DISKRIMINASI, MARGINALISASI, ETNOSIDA, DLL.

MERUPAKAN HAL YANG WAJAR DAN BISA KARENA JELAS PAPUA BARAT BUKAN BAGIAN DARI NKRI.

Colonization of West Papua, Philippe Rekacewicz, Cecile Marin, Agnes Stienne, Guilio Frigieri, Riccardo Pravettoni, Laura Margueritte and Marion Lecoquierre (January 2009)

Conflict and displacement in Papua and West Papua, Internal Displacement Monitoring Centre (IDMC) (October 2010)


Terkait Papua, PBB Sambut Penyelidikan Mendetil

Posted on November 14, 2012 at 9:15 PM Comments comments (3)

On May 18, 2012 Charles Johnson (WPLO Diplomator to UN) had a closed meeting with Professor James Anaya, Special Rapporteur For Indigenous Rights of the UN High Commissioner for Human Rights.

 

In conclusion and response to that meeting a special investigation committee has been formed. Professor. James Anaya (UN OHCHR) has recommended that Valmaine Toki (UNPFII) to begin investigation of the Political Status of West Papua.

 

Related to Papua, the UN Welcomes detailed investigation

Aulia Akbar

Tuesday, November 13, 2012 17:16 pm

 

Navi Pillay (Photo: Guardian)

JAKARTA-Chairman of the Commission on Human Rights Navi Pillay commented on Papua issue during a visit to Jakarta. Pillay welcomed the government's decision enough to continue the investigation.

 

"I am worried by the Government of Indonesia regarding the escalation of violence in Papua this year. I welcome the ongoing investigation in May and June," Pillay said at the United Nations Information Centre, Jakarta, Tuesday (11/13/2012).

 

"But I am concerned about the detention of activists participated in Papua, due to their peaceful activities in kebasan expression," he explained.

 

Pillay added that Papua is one of the topics of discussion in Geneva, as a number of countries in the Human Rights Commission filed the discussion above it. Pillay also said that NGOs have often raised the issue of Papua.

 

In a meeting with the Government of Indonesia, the former judge was also raised humanitarian issues such as torture and other. Pillay urged Indoonesia to commit to ratify the Additional Protocol to the Anti-Torture. (Faj)


==================================================

Terkait Papua, PBB Sambut Penyelidikan Mendetil

Aulia Akbar

Selasa, 13 November 2012 17:16 wib

Navy Pilay. (Foto Guardian)

JAKARTA -Ketua Komisi HAM PBB Navi Pillay berkomentar mengenai isu Papua dalam kunjungannya ke Jakarta. Pillay cukup menyambut keputusan pemerintah terhadap proses investigasi yang berlanjut.

 

"Saya khawatir dengan Pemerintah Indonesia terkait eskalasi kekerasan di Papua tahun ini. Saya menyambut investigasi yang terus berjalan pada Mei hingga Juni," ujar Pilay di United Nations Information Centre, Jakarta, Selasa (13/11/2012).

 

"Namun saya turut khawatir akan penahanan aktivis di Papua, karena mereka melakukan aktivitas yang damai dalam kebasan berekspresi," paparnya.

 

Pillay menambahkan, Papua menjadi salah satu topik diskusi di Jenewa, karena sejumlah negara di Komisi HAM mengajukan pembahasan atas itu tersebut. Pillay pun mengatakan bahwa LSM-LSM sudah sering mengangkat isu Papua.

 

Dalam pertemuannya dengan Pemerintah Indonesia, mantan hakim itu juga mengangkat isu-isu kemanusiaan seperti halnya penyiksaan dan lainnya. Pillay mendesak Indoonesia agar berkomitmen untuk meratifikasi Protokol Tambahan anti-Penyiksaan.(faj)


===================================================

 

Translator: Charles Johnson

Source:

Reporter: Aulia Akbar

http://international.okezone.com/read/2012/11/13/411/717891

GEOLOGY OF NEW GUINEA

Posted on November 14, 2012 at 8:35 PM Comments comments (1)

Geology of New Guinea

 

 

Hugh L. Davies1 and Joseph O. Espi

 

 

Earth Sciences, University of Papua New Guinea, PO Box 414, University NCD, Papua New Guinea.

 

1currently seconded to the PNG Mineral Resources Authority

 

 

 

Introduction

 

 

New Guinea lies across the northern margin of Australia and has the outline of a giant bird flying westward (Fig.1). It is the second largest island in the world, 2200 km long and up to 750 km wide, and one of the most mountainous with peaks to almost 4900 m above sea level. A central mountain range runs the length of the island and is bounded to the north by lesser mountain ranges and plains, and to the south by a broad plain. The Mamberamo and Sepik rivers drain the north side of the central range, and the Digul and Fly rivers drain the south.

 

 

 


Figure 1. Physiographic map of New Guinea. OJP Ontong Java Plateau, EP Eastern Plateau, PP Papuan Platform. Seafloor topography from Smith, W. H. F., and D. T. Sandwell, Global seafloor topography from satellite altimetry and ship depth soundings, Science 277:1957-1962 (1997); http://topex.ecsd.edu/marine_topo/mar_topo.html.

 

 

 

Beyond the southern plains a broad shallow shelf extends to the Australian coast. Other shorelines are steeper and some are bounded by deep sea trenches (Figs. 2). Small ocean basins lie to the northeast and southeast and a great submarine plateau (Ontong Java Plateau) lies to the extreme northeast, beyond the islands of the Bismarck Archipelago. Smaller submarine plateaus lie south of the bird’s tail.

 

 

Politically, the island is divided between the independent state of Papua New Guinea (PNG) in the east and Indonesia in the west, with a boundary that coincides, for the most part, with the 141oE meridian. The western half was known as Irian Jaya and is now known as Papua and Western Irian Jaya (Western Irian Jaya is the bird’s head and neck). The population of PNG is 6 million and is dominantly Melanesian. The population of the Indonesian provinces is 2.1 million and comprises 60-70% indigenous Melanesian and 30-40% migrants from Java, Sulawesi and Ambon.

 

 

Geological Setting

 

 

New Guinea is at the interface between the northward-moving Australian plate and the WNW-moving Pacific Plate (Fig.2). The resultant motion is convergence at a rate of 110 mm/yr on an azimuth close to 070o. Convergence has led to a succession of collisions of the Australian craton with the microcontinents and volcanic islands of the Pacific and with fragments of the craton that had been separated from the craton and then docked again. While the southern half of the island was always part of the Australian continent, the northern part has been built up by successive collisions. In geological terms, the southern part is autochthonous and the northern part allochthonous, being made up of accreted terranes.

 

 

Convergence of the Pacific and Australian plates has caused the development of a number of microplates; these are bounded offshore by spreading ridges, deep sea trenches, and transform faults and onshore by thrust, extensional and strike-slip faults, and folds. Earthquakes are located on the microplate boundaries (Fig. 3) and volcanic activity is associated with the deep sea trenches and spreading ridges.

 

 


Figure 2. Geological map of New Guinea. AB Aru Basin; AFB Aure fold belt; B Bougainville; BB Bintuni Basin; BK Biak; BT Bismarck Sea Transform; C Cyclops Mountains; CB Cenderawasih Bay; FR Finisterre Range; G Gauttier Range; GR Grasberg Mine; KT Kilinailau Trench; L Lihir Island (mine); LFB Lengguru Fold Belt; M Manus; MB Manus Basin; MI Misool; MT Manus Trench; MU Mussau; NB New Britain; OT Ok Tedi; P Porgera; PT Pocklington Trough; R Rabaul; SB Salawati Basin; SF Sorong Fault; ST Seram Trench; T Timor Trough; TT Trobriand Trough; W Wau; WA Waipona Basin; WB Woodlark Basin; WM Wamena; WN Wandamen Peninsula; WO Waigeo; WT Weyland Thrust; Y Yapen.

 

 

 

 


Figure 3: Earthquakes stronger than M 5 in the period 1963-2004. Focal depths as follows: Red <50km, yellow <100 km, green <200 km, blue <300 km, purple <400 km, brown <500 km, grey >500 km. Map by Emile Okal.

 

 

Neotectonics

 

 

In northwestern New Guinea the oblique convergence between the Australian and Pacific plates is accommodated in three ways: by left-lateral strike-slip motion on the fault systems that connect the Bismarck Transform in the east with the Sorong Fault in the west; by subduction at the New Guinea Trench; and by transpressional folding and faulting in the fold belt and in the Mamberamo Basin.

 

 

Measurements by Stevens et al. (2002) showed that the bird’s head is moving WSW at a rate of 93 mm/yr. This is almost the same motion as the Pacific Plate (110 mm/yr) and suggests that the western part of the New Guinea Trench is locked intermittently. This motion has caused the opening of Cendrawasih Bay, the development of Waipona Basin, and the development of the Lengguru Fold Belt.

 

 

The lithosphere of the Caroline Sea is subducted at the New Guinea Trench. Seismic tomography shows the subducted slab to dip at a shallow angle and to extend beneath the island of New Guinea to near the line of the south coast (Tregoning and Gorbatov, 2004). If this interpretation is correct then the igneous activity in the Papuan Basin fold belt, including the Grasberg and Ok Tedi intrusive rocks, can be seen as slab-related, rather than related to slab break-off as was suggested by Cloos et al. (2005). A shallow-dipping slab that is partly coupled to the upper plate also would explain the transfer of convergent motion for 400 km from the line of the New Guinea Trench to the southern front of the fold belt.

 

 

In northeastern New Guinea, collision between the Finisterre and Sarawaged ranges and the Bismarck volcanic arc causes uplift of the north coast of the Huon Peninsula at (averaged) rates of 1-3 mm/yr (Chappell, 1974, Chappell, J., 1974, Geological Society of America Bulletin 85:553-570).. Study of raised coral terraces on the peninsula yielded a high-quality record of fluctuations in sea level during the Late Quaternary. The same convergence causes the Finisterre mountain mass to ride southward and results in down-warping of the northern end of the Papuan peninsula, which is subsiding at a rate of 5 mm/yr.

 

 

In eastern New Guinea, active sea floor spreading in the Woodlark Basin is advancing westward and causes north-south extension of the mainland and adjacent islands. One result is the emergence in the Pliocene of domes and half-domes of metamorphic rocks by low-angle extensional faulting in the islands and on the mainland (Abers, et al., 2002, Nature 418:862-865). Another is the opening of small rift basins offshore. Spreading within the last 1.2 Ma has caused the separation of Misima Island from a position adjacent to Woodlark (Muyua) Island (Taylor, B., et al., 2002, Nature 374:534-537).

 

 

Economic Aspects

 

 

Oil is produced from the Salawati Basin and a large volume of gas is to be developed in the Bintuni Basin beneath Bintuni Bay. In PNG oil and gas are produced from structures in the fold belt. Copper and gold are produced from major mines at Grasberg and Ok Tedi, and gold from Porgera and Lihir Island. Gold at Hidden Valley, near Wau, will start production in 2009, Gold and massive base metal sulfides associated with seafloor hydrothermal activity in the eastern Bismarck Sea are at advanced exploration stage.

 

 

Relevant literature

 

Cloos, M., B. Sapiie, A. Quarles van Ufford, R.J. Weiland, P.Q. Warren & T.P. McMahon. 2005. Collision delamination in New Guinea: The geotectonics of subducting slab breakoff. Geological Society of America Special Paper 400, 51p.

Davies, H.L. 1990. Structure and evolution of the border region of New Guinea, in G.J. and Z. Carmen, eds., Petroleum Exploration in Papua New Guinea: Proceedings of the First Papua New Guinea Petroleum Convention, Port Moresby, p. 245-269.

Dow, D.B. 1977. A geological synthesis of Papua New Guinea. Bureau of Mineral Resources, Australia, Bulletin 201, 41 p.

Dow, D.B., G.P. Robinson, U. Hartono, & N. Ratman,. 1988. Geology of Irian Jaya: Geological Research and Development Centre, Indonesia, in cooperation with Bureau of Mineral Resources, Australia, 298 p.

Hill, K.C., R.D. Kendrick, P.V. Crowhurst, & P.A. Gow, 2002, Copper-gold mineralization in New Guinea: tectonics, lineaments, thermochronology and structure. Australian Journal of Earth Sciences 49:737-752.

Mahoney, J., G. Fitton & P. Wallace & the Leg 192 Scientific Party. 2001. ODP Leg 192: Basement drilling on the Ontong Java Plateau. JOIDES Journal 27(2):2-6.

Parris, K. 1996. Central Range Irian Jaya Geology Compilation 1:500,000 scale geological map. P.T. Freeport Indonesia.

Pigram, C.J., & H.L. Davies. 1987. Terranes and the accretion history of the New Guinea orogen. BMR Journal of Australian Geology and Geophysics 10:193-211.

Quarles van Ufford, A., & M. Cloos. 2005. Cenozoic tectonics of New Guinea. American Association of Petroleum Geologists Bulletin 89:119-140.

Stevens, C.W., R. McCaffrey, Y. Bock, J.F. Genrich, M. Pubellier, & C. Surabaya. 2002. Evidence for block rotations and basal shear in the world’s fastest slipping continental shear zone in NW New Guinea. American Geophysical Union Geodynamics Series 30:87-99

Tregoning, P., & A. Gorbatov. 2004. Evidence for active subduction at the New Guinea Trench. Geophysical Research Letters 31, L13608, doi:10.1029/2004GL020190, 2004

Perekrutan Teroris Papua oleh Dakwa Islam

Posted on November 2, 2012 at 5:55 PM Comments comments (1)

PEREKRUTAN TERORIS PAPUA OLEH DAKWAH ISLAM.

 

Pada  awal Januari  2011. Ada  4 anak  Papua yang lari daripesantren ,  3 anak berasal dari kampung Warga Nusa II  Babo Kab Bintuni, yang satunya lagi berasal dari kampung Kokoda Kabupaten  Sorong.

 

Tiga anak yang berasal dariBabo bernama:

1.  Basri Refideso   (16thn) anak dari Bpk Ismael Refideso/Rahmawati Refideso

2.  Hidayat Refideso ( 13 thn) anak dari Bpk Ismael Refideso/Rahmawati Refideso

3.  Edi Manoama   ( 14 thn) anak dari Basri Hidayat/SaidaManoama

Satu  anak berasal dari Kokoda Sorong :   Irianto Turay  (14 thn) anak dari HasanTurai/Binti Kasirah

 

Menurut  informasi atau kesaksian  keempat anak ini  bahwasetiap tahun ustad Ahmad Baihaki pergi ke Papua dengan mengunakan kapal KM LABOBAR untuk melalukan misi dakwahnya di beberapa daerah selatan Papua antara lain ; Sorong , Bintuni, Manokwari, Wasior dan Ransiki. Bahkan direncanakanpada tgl 2 Agustus 2011 Ustad Ahmad Baihaki ini akan pergi untuk dakwah di daerah Sorong.

 

Keempat anak ini diajak dan dijanjikan untuk bersekolah di daerah Bogor. Mereka dikumpulkan oleh Ustad Ahmad Baihaki bekerja sama dengan Mohamad Run asal dari Babo kampung Warga Nusa II.

 

Kronologis kejadiannya adalah sebagai berikut ;

Awalnya anak-anak ini  diajak oleh Paman  mereka yang bernama  Mohamad Run yang sudah  bekerja sama dengan seorang Ustad  bernama Ahmad Baihaki ia adalah seorang pemimpin di Pesantren Darul Rasul Bogor Cibinong kampung Nanggewer.

 

Ketiga anak tersebut, Basri, Hidayat dan Edi dibawa dengan kapal kayu  Getsemani dari Babo menuju Sorong, mereka dikumpulkan disebuah tempat di belakang Pasar Remu sedangkan Irianto dibawa dari  Kampung Kokoda Sorong. Tanggal 6Januari 2011 mereka berangkat dari Sorong mengunakan KM Labobar   dengan kurang lebih 20 orang anak-anak  Papua baik laki- laki dan perempuan dari kabupaten lain di Papua dengan tujuan yang sama untuk bersekolah di Bogor. Dikawal langsung oleh Ustad Ahmad Baihaki mereka tiba di Jakarta  hari Jumat  tanggal 11 Januari 2011 kemudian  dibawa dengan truk milik TNI  sampai tiba   tepat jam 12 malam di Pesantren Darul Rasul  Kampung Nangewer Cibinong Bogor Jawa Barat . 

 

Keesokan harinya tepat hari Sabtu tanggal 12 Januari 2011 ternyata mereka baru menyadari  bahwa  sekolah yang dijanjikan tersebut belum ada sama sekali bahkan  baru rencana akan dibangun. Banyak anak- anak yang sudah lama datang dari Papua di pesantren ini  tidak bersekolah .

 

Sejak hari itu keempat anak Papua ini  mulai  menyesuaikan diri dengan program yang ada di Pesantren  Darul Rasul. Menurut kesaksian mereka berempat , pada waktu di Sorong Ustad Baihaki mengatakan kepada mereka dan keluarga  bahwa sekolah dan pesantren di Bogor tersebut  sangat bagus padahal kenyataanya tidak demikian.

 

Menurut kesaksian Basri, Hidayat, Edi dan Irianto ternyata apa yang diajarkan oleh Ustad di Pesantren  sangatlah tidak baik dan tidak sewajarnya. Akhirnya mereka  tidak betah karena sering kali mereka dipukuli. Bila terjadi kesalahan tidak saja  mereka dipukuli tetapi jatah makan mereka ditahan sehingga beberapa dari teman- teman mereka mengalami kondisi tubuh yangmenurun atau sakit.

 

Setiap  pagi mereka dibangunkan dengan cara disiram dengan air lalu harus tidur diatas tehel tanpa ada alas kasur atau kain sehingga banyak diantara mereka yang mengalami sakit namun  tidak mendapatkan perhatian dan pengobatan. Mereka dibiarkan saja sampai sembuh dengan sendirinya.

 

Padasaat  mereka makan pagi, siang atau malam   mereka diberi makan satu rantang untuk 5 orang dan dilarang minum dengan mengunakan mangkok atau gelas jadi kalau mereka mau minum harus mengunakan tangan dan air yang mereka minum adalah air kran yg mentah atau belum dimasak. Sering kali jatah makan mereka di tahan kalau ada yg melangar peraturan di Pesantren.

 

Sebenarnya ada beberapa keluarga mereka yang tidak setuju mereka masuk ke pesantren ini namun mereka dipaksa untuk ikut oleh Paman/seseorang  yang bernama Mohamad Run ini .

 

Selama mereka ada di pesantren ternyata tenaga mereka dipakai sebagai tukang bangunan untuk membawa bahan-bahan bangunan seperti semen, batu dan pasir untuk membangun sekolah di lokasi pesantren tsb .

 

Jika salah satu dari antara mereka melanggar peraturan di dalam pesantren tersebut maka semua orang yang ada di dalam pesantren itu harus memukul anak itu, apabila ada kedapatan anak-anak  sedang berkelahi maka Ustad menyuruh  mereka untuk berkelahi hingga mereka berdarah.

 

Ternyata pesantren ini di khususkan untuk anak-anak asal Papua dan jumlah mereka yang ada di pesantren saat ini  adalah 91 anak laki- laki dan kuranglebih 36 anak perempuan. 4 orang diantaranya sudah pergi yaitu Basri, Hidayat, Edi dan Irianto.

 

Mereka tidak kuat lagi dengan keadaandan situasi yang ada di pesantren. Hingga akhirnya pada tanggal 18 Maret 2011 jam 3.00 subuh mereka memutuskan untuk lari dan pergi dari pesantren tersebut. Mereka harus melewati parit  tempat pembuangan air dan  berjalan kaki sampai fajar,  mereka tiba  tepat berada di sebuah  jalan Tol menuju Jakarta. Tujuan mereka pergi dari pesantren karena mereka sudah tidak tahan dengan keadaan di Persantren dan  ingin menyampaikan pesan mereka kepada saudara mereka yang masih ada di Papua supaya jangan ikut pesantren di Bogor karena perlakuannya tidak wajar. Di pertengahan dekat jalan  tol menuju Jakarta mereka bertemu dengan penjual bubur ayam yang akhirnya memberi mereka makan bubur ayam .Ketika mereka berbincang bincang dengan tukang bubur ayam tersebut,  ada seorang ibu yang sedang membeli bubur ternyata ibu itu suaminya asalnya dari Papua. Lalu Ibu ini membawa keempat anak tersebut ke rumahnya dan memberikan uang sebesar Rp. 50.000 kemudian mereka naik bus yang menuju Tanjung Priok. Jam 12 siang mereka tiba di terminal Tanjung Priok dan berjalan kaki menuju pelabuhan kapal Tanjung Priok.

 

Selama 3 hari 2 malam mereka tidur diterminal penumpang dengan keadaan takut dan khawatir karena kalau  Ustad sampai menemukan mereka pastinya mereka akan mendapat hukuman yang sangat berat. Setelah 3 hari 2 malam tepat tanggal 21 Maret 2011  di pelabuhan Tanjung Priok, akhirnya mereka  bertemu dengan seseorang yang bernama MR. Lalu mereka dibawa dan dirawat oleh MR dikediamannya .  sampai berita ini dibuat mereka telah berada selama 10 hari dan dirawat serta dilindungi oleh MR dalam keadaan sehat. Harapan dari empat anak ini mereka bisa kembali bertemu dengan keluarga di Papua dan supaya tidak ada lagi anak-anak Papua yang masuk Pesantren tersebut yang diajak Team Dakwah dari Jawa.       


 

KRONOLOGI PENEMBAKAN MAHASISWA UNIPA

Posted on October 31, 2012 at 9:45 PM Comments comments (0)

KRONOLOGIS AKSI MASSA DEMO DAMAI DI AMBAN

PAPUA BARAT

TANGGAL 23 OKTOBER 2012

Reporter: John and Rudolfo

Receiver: Abraham Ramandey


Pada Selasa tanggal 23 0ktober 2012, Komite National Papua Barat (KNPB), serta kelompok-kelompok

Organisasi Mahasiswa lainya yang melakukan aksi “ Demo Damai “ dengan Agenda sebagai berikut :

  1. MENUNTUT INDONESIA SEGERAH MENYELESAIKAN MASALAH PAPUA;
  2. MENDUKUNG INTERNATIONAL PARLEMENTS FOR WEST PAPUA (IPWP) DAN INTERNATIONAL LOWERS FOR WEST PAPUA (ILWP) DI INGGRIS YANG MENGGUGAT MASALAH PEPERA DIPBB;
  3. MENUNTUT INDONESIA SEGERA BERTANGGUNG JAWAB DENGAN PELANGGARAN HAM DIATAS TANAH PAPUA DAN INDONESIA SEGERA MEMBUKA RUANG DEMOKRASI BAGIRAKYAT PAPUA;

Maka pada jam 08.00 Watktu Papua Barat (WPB), mahasiswa - mahasiswi berkumpul di pohon beringin diluar halaman kampus Universitas Negeri Papua (UNIPA), massa aksi berjumlah ± 300 – 400 orang yang turut melakukan aksi dan beberapa Mahasiswa melakukan orasi-orasi ilmiah dengan teriakan yel - yel Papua MERDEKA dan Referendum. Tepat pada jam 09.00, massa aksi mulai start jalan, tetapi tidak jauh dari lingkungan kampus, tepatnya di depan Rumah Makan Mbah Mart yang berhadapan dengan kampus, tidak lama kemudian gabungan Aparat keamanan (Polisi,brimob, densus 88, dan TNI) datang dan memblok kade massa aksi, di situ terjadi tarik menarik antara pihak kepolisian dan Massa aksi. Pimpinan aksi ALEKSSANDER NEKENEM, DKK, berdiplomasi dengan Wakil Kepala Kepolisian Resor (WAKPOLRES) Manokwari dan sampai pada jam 10.30, dan ada pihak ketiga yang mencoba mengacaukan aksi yang di setting oleh pihak - pihak tertentu, melempar aparat kepolisian dengan Batu, dan ketika pihak kepolisian di lempar, pihak kepolisian membalas dengan menghamburkan peluru nyasar, ada yang menembak ke langit dan ada yang menembak menuju massa aksi. Aparat kepolisian mengejar mahasiswa dan memukul 7 orang sampai babak belur serta menembak 4 orang dengan jarak tembak 20 – 30 meter, yang mengakibatkan 3 diantarnya terkena “ PELURU KARET “ yang menyebabkan “ LUKA PARA “ yaitu (EDWUARD IWANDILE, EDISON PEYON, JHON BITIBALIYO dan MAIKE SAMA) serta “ SATU ORANG “ yang terkena “ PELURU TAJAM “ yaitu (MELKIAS BEANOK), Serta menangkap 11 ORANG di antarnya (ALEKSANDER NEKENEM, ROBERT ROY ROBAHA. DKK) di hajar / di pukul sampai babak belur, dan menangkap serta membawa mereka ke Polres Manokwari untuk di periksa dan atau diminta keterangan, dan aparat keamanan Polres MAnokwari selanjutnya membubarkan masaa aksi. Namun massa aksi tetap bertahan, kondisi tersebut membuat perhatian sejumlah Stakholder - Stakholder prihatin terhadap situasi tersebut serta terlibat langsung menyelesaikan dinamika penembakan dan pemukulan terhadap mahasiswa - mahasiswa tersebut. Stakholder dimaksud Yaitu, Perwakilan Pimpinan dari senat UNIPA, Kepala Kelurahan Amban, Tokoh Gereja, Tokoh Adat, dan Pimpinan - Pimpinan Politik lainya, serta Wakil Kapolda Papua JHON WATERPAUW pun turun, dan mengembalikan mahasiswa - mahasiswa yang di aniaya, kepada massa aksi, serta menyuruh massa aksi untuk bubar, dan pada jam 14.00 Waktu Papua Barat, massa aksi bubar dengan luka yang mendalam, dengan pesan kepada pihak pemerintah, “ KOK LINGKUGAN KAMPUS, DAERAH OTORITAS INDEPENDENT PENDIDIKAN INTERVENSI PAMERINTAH MAMPU MELAKUKAN TINDAKAN PELANGGARAN HAM TERHADAP MAHASISWA, APALAGI DENGAN RAKYAT SEMESTA PAPUA BARAT YANG MENUNTUT ADANYA KEADILAN DAN KEBENARAN BAGI ORANG PAPUA.. KESIMPULAN DARI KAMI, MAHSISWAMAHSISWI UNIVERSITAS NEGERI PAPUA BAHWA “ pemerintah Indonesia menjadikan RAKYAT PAPUA SEBAGAI OBJEK POLITIK, dan MANUSIANYA DI BUNUH, SERTA HAK - HAKNYA DI RAMPAS”.


Potret Mahasiswa Yang Korban Saat Melakukan Aksi :


LAPORAN PERJALANAN WPLO KE PBB

Posted on July 19, 2012 at 10:55 PM Comments comments (4)

UN Photo Library


DITULIS OLEH JOHN ANARI


 

 

PERJALANAN PERJUANGAN PEMBEBASAN BANGSA PAPUA BARAT MEMAKAN WAKTU HAMPIR 50 TAHUN TETAPI TIDAK PERNAH ADA HARAPAN YANG MENGGEMBIRAKAN KARENA BADAN INTERNATIONAL PBB TIDAK PERNAH DILIBATKAN DALAM PROSES INI. SELAIN ITU, INDONESIA TELAH BERHASIL MEMUTAR-BALIKAN FAKTA SEJARAH INTEGRASI PAPUA DALAM NKRI MELALUI DOKUMEN MEREKA YANG KINI DIPAKAI PERWAKILAN RI DI PBB SERTA KEDUTAAN-KEDUTAAN RI DI SELURUH DUNIA. DOKUMEN MEREKA YANG BERJUDUL RESTORATION OF IRIAN JAYA INTO REPUBLIC OF INDONESIA ADALAH DOKUMEN FIKTIF SEJARAH PAPUA YANG DIKAITKAN DENGAN KERJAAN MAJAPAHIT DAN SULTAN TIDORE SERTA PENIPUAN SEJARAH TENTANG PELAKSANAAN PEPERA (PENENTUAN PENDAT) TAHUN 1969. DOKUMEN INI TIDAK ADA BUKTI FOTO YANG AKURAT SEHINGGA WPLO HARUS KERJA KERAS MENYUSUN DOKUMEN LENGKAP DISERTAI BUKTI-BUKTI JELAS SUPAYA DAPAT DIAKUI DUNIA INTERNATIONAL.

 

PENGEJUTAN PERTAMA DIMULAI KETIKA SEKJEN PBB BANKI-MOON PADA BULAN AGUSTUS 2011MENGELUARKAN STATEMENT DI AUCKLAND, SELANDIA BARU PADA PERTEMUAN NEGARA2PASIFIK DI PACIFIC ISLAND FORUM BAHWA PERSOALAN PAPUA BARAT AKAN DIBUKAKEMBALI DI KOMISI DEKOLONISASI DAN DISITU KITA LIHAT APAKAH PAPUA INI MERUPAKANDAERAH YANG BELUM BERPEMERINTAHAN SENDIRI (NON SELF GOVERNMENT TERRITORY)ATAU MERUPAKAN NEGARA MERDEKA BERDAULAT (INDEPENDENT STATE).

AKHIRNYA MULAI BERAKSI PARA PEJUANG DI TANAH PAPUA UNTUK MENYATAKAN PADA PUBLIKSUPAYA SEKJEN PBB HARUS SEGERA REALISASI KATA-KATANYA SERTA DENGAN AKSI-AKSIINI MEMBUAT JATUH KORBAN LAGI DI KALANGAN MASYARAKAT SIPIL PAPUA BARAT TETAPIPELAKUNYA PUN TIDAK PERNAH DIPROSES SESUAI HUKUM YG BERLAKU DI NKRI WALAU TELAHMELANGGAR HAK ASASI MANUSIA.

 

MELALUI AKSI BRUTAL ORGAN-ORGAN INI SANGAT MENGUNTUNGKAN PERJUANGAN PAPUA DIMATA INTERNATIONAL TETAPI MENIMBULKAN KERUGIAN JUGA BAGI KELUARGA MEREKA YANGDITINGGALKAN.

 

SUDAH PASTI BANYAK ORANG AKAN MUNCUL PERTANYAAN, MENGAPA ORANG NOMOR SATU PBBBISA MENGELUARKAN STATEMENT (PERNYATAAN) SEPERTI ITU?

 

JAWABANNYA SUDAH TENTU BAHWA PASTI ADA AKTIVIS PAPUA ATAU ORGANISASITERTENTULAH YANG MEMBAWA DOKUMEN ITU KE PBB SEHINGGA BELIAU BISA BERKATADEMIKIAN.

 

SIAPAKAH MEREKA YANG BERHASIL MEMBONGKAR KEGAGALAN DEKOLONISASI PAPUA BARAT DIPBB?

JAWABANNYA KITA BISA LIHAT LANGSUNG PADA PUBLIKASI DOKUMEN PBB PADA LINK PBB DIBAWAH INI:

 

http://esango.un.org/civilsociety/documents/602061/4810705.pdf

 

LINK DI ATAS MEMBUKTIKAN BAHWA PERJUANGAN TANPA DATA DAN FAKTA ADALAHPERJUANGAN SIA-SIA KARENA INI ADALAH ALAT BUKTI UNTUK MEYAKINKAN DUNIA UNTUKMEMPERCAYAI APA YANG KITA TUNTUT SEHINGGA MEREKA BISA MEMBANTU KAMI MENGATASIKONFLIK DI ATAS TANAH PAPUA YANG SUDAH TERJADI SELAMA 50 TAHUN INI.

 

SEJARAH JALANNYA DOKUMEN ITU CUKUP PANJANG, MULAI DARI PENGUMPULAN DATA-DATASEJAK TAHUN 1998 HINGGA PENYUSUNANNYA MENJADI SEBUAH DOKUMEN LENGKAP.

DOKUMEN ITU DISUSUN DARI TAHUN 2008 HINGGA TAHUN 2011 KEMUDIAN DIMASUKAN OLEHDUA ORANG DIPLOMAT WEST PAPUA LIBERATION ORGANIZATION (WPLO) PADAACARA KHUSUS PERTEMUAN DENGAN PELAPOR KHUSUS PBB UNTUK MASYARAKAT PRIBUMI PROF.JAMEZ ANAYA DI MARKAS PBB, NEW YORK - AMERIKA SERIKAT PADA SIDANG KE-10 FORUMPERMANENT PBB UNTUK MASYARAKAT PRIBUMI (UNITED NATIONS PERMANENT FORUM ONINDIGENOUS ISSUES) TANGGAL 20 MEI 2011.

 

KEDUA DIPLOMAT WPLO BK & AT DIJANJIKAN BAHWA THEY WILL FOLLOW UP THISDOCUMENT TO UN SECRETARY GENERAL OF UN (MEREKA AKAN MENINDAK-LANJUTI DOKUMENINI KE SEKRETARIS JENDERAL PBB).

MAKA LAHIRLAH STATEMENT SEKRETARIS JENDERAL PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA DI FORUMKEPULAUAN PASIFIK  (PACIFIC ISLAND FORUM) PADA BULAN AGUSTUS 2011.

 

PERJALANAN BERIKUTNYA YAITU, 3 DIPLOMAT PAPUA (BK, OM, & CJ) LAGI DIKIRIMUNTUK MENGIKUTI SIDANG FORUM PERMANENT PBB UNTUK MASYARAKAT PRIBUMI (UNITEDNATIONS PERMANENT FORUM ON INDIGENOUS ISSUES) KE-11 PADA TANGGAL 18 MEI2012 DI MARKAS PBB. WPLO DIUNDANG KHUSUS LAGI UNTUK BERTEMU KEMBALI DENGANPELAPOR KHUSUS PBB PROF. JAMES ANAYA, SATU DIPLOMAT BK BERTEMU KHUSUS DENGANSEKJEN PBB BANKI-MOON DAN BELIAU (BANKI-MOON) MENGATAKAN BAHWA IA SUDAH TAHUPERSOALAN WEST PAPUA DAN AKAN DITINDAK LANJUTI. SEDANGKAN DUA DIPLOMAT OM DANCJ BERTEMU PROF. JAMES ANAYA UNTUK MENYAMPAIKAN STATEMEN WPLO.

 

STATEMENT WPLO DAPAT DIAKSES PADA LINK DI BAWAH INI:

 

http://oppb.webs.com/apps/blog/entries/show/15348239-grail-knight-foundation-s-united-nations-report-on-the-state-of-worldindigenous-people-and-conditions-of-west-papu

 

HASIL TERAKHIR YANG DIDAPATKAN DARI PERJALANAN PANJANG PERJUANGAN WPLO DI PBBYAITU PBB TELAH MENGELUARKAN REKOMENDASI YANG ISINYA SEPERTI DI BAWAH INI:

 

The Permanent Forum appoints Valmaine Toki, a member of the Forum, toundertake a study on decolonization of the Pacific region, to be submitted tothe Forum at its twelfth session.

 

Forum Permenent menunjuk Valmaine Toki,seorang anggota Forum, untuk mempelajari Dekolonisasi Wilayah Pasifik, untukdimasukan pada Forum di Sidang Ke-12.

 

Rekomendasi lengkap bisa download pada link PBBdi bawah ini:

 

http://www.un.org/Docs/journal/asp/ws.asp?m=E%2FC.19%2F2012%2F13

 

DALAM SIDANG FORUM PERMANENT PBB (UNITED NATIONS PERMANENT FORUM ONINDIGENOUS ISSUES) KE-8 TAHUN 2008, PBB TELAH MENGELUARKAN REKOMENDASIUNTUK PROSES DEKOLONISASI SISAH WILAYAH-WILAYAH YANG BELUM BERPEMERINTAHANSENDIRI DI PASIFIK UNTUK LIMA WILAYAH YAITU NEW CALEDONIA, PITCAIRN,TOKELAU, GUAM, DAN SAMOA BARAT UNTUK DIPERSIAPKAN MERDEKA PADA TAHUN2014.

 

SEDANGKAN REKOMENDASI PADA SIDANG KE-12 YAITU PBB MENGUTUS VALMAINE TOKI UNTUKMEMPELAJARI DEKOLONISASI WILAYAH PACIFIC.

PERNYATAAN REKOMENDASI KE-2 KALINYA UNTUK WILAYAH PACIFIC INI SEBENARNYADITUJUKAN UNTUK WILAYAH MANA SEBENARNYA ?

 

BILA KITA LIHAT PADA DAFTAR DEKOLONISASI LAMA PADA LINK PBB DI BAWAH INI, MAKAPAPUA BARAT (NETHERLANDS NEW GUINEA) TERMASUK SALAH SATU WILAYAH DEKOLONISASIYANG SEHARUSNYA DIPERSIAPKAN PENJAJAHNYA UNTUK MERDEKA TETAPI AKHIRNYA DIHAPUSKANBEGITU SAJA OLEH PBB PADA TAHUN 2009 KETIKA KETUA KOMISI DEKOLONISASI DIPEGANGOLEH ORANG INDONESIA YAITU MARTY NATALEGAWA YANG SEKARANG MENJABATSEBAGAI MENTERI LUAR NEGERI INDONESIA.

 

http://www.un.org/en/decolonization/nonselfgov.shtml

 

PERMAINAN INDONESIA DI PBB CUKUP BERHASIL SEHINGGA BISA BERSAMA-SAMA PENJAJAHLAINNYA MENGHAPUSKAN STATUS DEKOLONISASI WILAYAH JAJAHAN MEREKA SEHINGGA DAFTARDEKOLONISASI YANG DULUNYA BERJUMLAH BANYAK BERKURANG MENJADI 16 WILAYAH SAJAYANG KINI TELAH DIREKOMENDASI FORUM PERMANENT PBB UNTUK MASYARAKAT PRIBUMIUNTUK MENDAPATKAN KEMERDEKAANNYA PADA TAHUN 2014 NANTI.

 

BERIKUT DAFTAR DEKOLONISASI BARU YANG DIRUBAH SEJAK TAHUN 2010 OLEH KETUAKOMISI DEKOLONISASI ASAL INDONESIA DR. MARTY NATALEGAWA.

 

http://www.un.org/en/decolonization/nonselfgovterritories.shtml

 

KESIMPULAN KAMI DARI WPLO, MAKA REKOMENDASI FORUM PERMANENT PBB PADA SIDANGKE-8 DAN KE-11 BERBEDA KARENA WILAYAH PASIFIK YANG BERJUMLAH 5 WILAYAH AKANSIAP DIMEMERDEKAKAN PADA TAHUN 2014 SEDANGKAN REKOMENDASI SIDANG KE-11DITUJUKAN KEMBALI UNTUK WILAYAH PASIFIK YANG MANA ?

APAKAH UNTUK HAWAII, WEST PAPUA, ATAU YANG MANA ?

 

MAKA KITA TUNGGU SAJA, SEMOGA JANJI PELAPOR KHUSUS PBB PROF. JAMES ANAYA DANSEKJEN PBB BANKI-MOON BISA DITEPATI AGAR TIDAK MENGECEWAKAN RAKYAT PAPUA BARAT.

 

Kronologis Penembakan MACKO TABUNI

Posted on June 18, 2012 at 5:35 AM Comments comments (2)

Laporan Kronologis Penembakan MACKO TABUNI, [1]

Wakil Ketua I Komite Nasional Papua Barat (KNPB)

(Kamis,14 Juni 2012)

 

 

A. AwalTertembak

 Hari masih pagidan cuaca tampak cerah. Matahari baru mulai menunjukan wajahnya dibalik GunungCycloop untuk memancarkan sinarnya di langit-langit biru wilayah Port Numbay(Kota Jayapura) yang indah. Suasana di sekitar Waena Perumnas 3 KelurahanYabansai Distrik Abepura Kota Jayapura pagi itu, Kamis 14 Juni 2012, tampak berjalannormal seperti hari-hari biasa. Meskipun beberapa minggu belakangan (akhir Mei -awal Juni) sempat terjadi aksi-aksi penembakan misterius yang dilakukan OrangTak Dikenal (OTK) di wilayah Kota Jayapura. Namun rentetan aksi penembakan itutidak mempengaruhi situasi sekitar Waena yang pagi itu berjalan normal.

Para penjualpinang, tukang ojek di pangkalan ojek putaran taxi Perumnas 3 maupun para sopirtaxi jurusan Abepura-Perumnas 3 terlihat melakukan aktivis rutinnya. Beberapapenjual pisang goreng, rumah toko (ruko), warung-warung makan, kios, warunginternet warnet), apotik hingga tempat foto copi dan pengetikan naskah yangbiasanya melayani mahawasis/i dan warga sekitar perumnas 3 juga berjalan normalseperti biasanya. Kampus Uncen baru yang terletak di bukit Waena atau  tidak jauh dari lokasi Perumnas 3 Waena,memang memberi daya tarik tersendiri dengan adanya keramaian di wilayah ini. Halini membuat semakin menjamurnya berbagai tempat usaha, rumah penduduk danbangunan lain. Aktivitas hidup masyarakat pun menjadi beragam tiap hari.       

Pagi itu sekitarjam 9.00 waktu Papua, seorang aktivis Papua bernama Macko Tabuni, yang wajahnyasudah sangat familiar di kalangan pers (wartawan) di Jayapura terlihat asik berbincang-bincangdengan 4 orang pemuda berpakaian biasa (preman). Entah apa yang sedang diperbincangkankelima orang ini dan apakah Macko sendiri berteman dengan mereka, ataukah dia barukenal mereka pagi itu? Ini belum jelas. Tiga orang saksi mata berstatusmahasiswa yang kami wawancarai, berdiri tidak jauh, hanya sekitar belasan meterdari bengkel las di depan putaran taksi Perumnas 3, area dimana Macko Tabuni yangditemani seorang kerabatnya dan keempat orang itu berdiri sambil berceritasejak beberapa menit lalu.

Macko memang terlihatoleh tiga saksi ini mengenakan celana dan baju bercorak loreng (mirip seragam tentara)yang sering menjadi ciri khas penampinannya maupun menjadi penampilan khas paraaktivis Papua yang berasal dari organisasi Komite Nasional papua Barat (KNPB).Rambut keritingnya yang dianyam menjuntai dari kepalanya, dibalut (ditutupi)sebuah topi kesayangannya, mirip topi khas pemacu kuda atau topi khas pelukisterkenal Indonesia, Almarhum Bazuki Abdulah. Seorang dari empat orang yangmenjadi lawan bicaranya beretnis Melayu (non Papua), sedangkan tiga oranglainnya beretnis Papua.

Postur tubuhkeempat orang ini terlihat lebih ramping dan sediki lebih tinggi dari Mackoyang bertubuh gemuk pendek. Potongan rambut keempat pemuda itu berbeda. Seorangyang beretnis Melayu, rambut lurusnya sedikit menjuntai ke bawah, sementaratiga pemuda Papua memiliki rambut keriting sediki pendek. Menurut ketiga saksi,ketika Macko yang ditemani seorang kerabatnya dan keempat orang ini sedang berdirisambil bercerita, tiga mobil secara bersamaan terlihat melaju dari arah jalanmenuju Kampus Uncen. Sesuai perkiraan saksi, ketika mobil ini sepertinya melajudari arah Jayapura memotong jalan alternatif Entrop-Skyland-Waena hingga tibadi Perumnas 3. Ketiga mobil yang memiliki tipe berbeda ini tiba-tiba berhentipada lokasi dan jarak yang berbeda.

Yang satunyaadalah sebuah mobil Avanza berwarna silver yang tampak masih mengkilap dengan kacatertutup rapat, bernomor polisi (DS) 1481 dan sebuah mobil Kijang lain berwarnacoklat dengan kaca tertutup. Kedua mobil ini sebelumnya berhenti tepat di sampingkanan jembatan gorong-gorong (dekat Gereja Advent). Nomor polisi (DS) darimobil kijang ini tidak sempat dihafal oleh saksi. Beberapa saat kemudian, beberapaorang berpakaian preman keluar dari dalam dua mobil itu. Selain dua mobil itu,sebuah mobil Daihatsu hitam dan panjang dengan kaca tertutup dan bernomorpolisi (DS) 141, tiba-tiba muncul dan berhenti tepat di depan sebuah rumah toko(ruko) yang diatasnya ada warnet bernama Tepe Net.

Kebetulan,posisi berdiri tiga mahasiswa yang menjadi saksi hanya beberapa meter darimobil Daihatsu ini. Seketika dari dalam mobil ini keluar seorang pria berbadankekar, berkulit sawo matang dengan tipe rambut lurus pendek. Di tangan priaberpakaian preman berwarna hitam ini, tampak sebuah senjata laras panjang tipeSS1 (buatan PT. Pindad Indonesia). Dengan wajah yang tampak serius dan tanganmemegang senjata, pria ini berjalan ke arah Macko Tabuni dan keempat pemuda itu.Sambil berjalan pria ini sempat mengokang senjata dengan posisi moncong senjatamengarah ke bawah dan siap menembak.

Macko yang saatitu sedang berdiri sambil berbincang-cincang, tiba-tiba kaget karena ditodongdengan senjata dari arah depan oleh pria yang keluar dari dalam mobil Daihatsu.Sempat terdengar oleh saksi, pria bersenjata itu mengatakan, “Jangan bergerakanda saya tangkap,” sambil terus menodongkan ujung senjata ke wajah Macko.Karena merasa terjepit, Macko lalu berupaya bergerak dan menghindar. Namun tangan,baju dan badanya sempat ditahan oleh empat pemuda yang tadinya berceritadengannya agar dia tidak melarikan diri. Setelah berkutat selama beberapa detikdengan mereka, Macko berhasil melepaskan diri dan berlari menyusuri jalan rayake arah pangkalan ojek yang biasanya melayani mahasiswa Uncen, jaraknya tidakjauh dari posisinya berdiri semula.

Seorangkerabatnya yang sempat berdiri menemaninya pun terpaksa melarikan diri karenamelihat Macko ditodong dengan senjata dan akan ditangkap. Beberapa detik saatMacko melepaskan diri dari beberapa orang yang sudah berusaha menangkapnya dan terusberlari, pria yang memegang senjata laras panjang sempat melepas dua kalitembakan peringatan ke udara. Kemudian disusul tembakan ketiga saat Macko masihterus berlari. Menurut ketika saksi yang saya wawancarai, Macko sempat berhentidan mencoba mengarahkan tangannya untuk meraih sesuatu dari dalam saku celana. Entahapa yang hendak diraih dari dalam saku celananya? Soalnya, saksi tidak melihatsesuatu pun digenggamnya.

Karena merasaterdesak, Macko terus berlari hingga menyelinap dibelakang deretan dua puluhanmotor ojek yang sedang diparkir. Tapi dia lalu dihadang dan sempat ditangkap olehseorang tukang ojek yang memakai helm kuning yang sudah berada pada posisi siap(stand bay) disitu.  Sang tukang ojek itusempat memegang erat baju dan badan Macko untuk menghentikannya, tetapi karenaMacko melawan dan merontak dengan keras sehingga dia dapat melepaskan diri danterus berlari. Seketika seorang polisi berpakaian preman yang ikut mengejar menembaktepat di paha kanan Macko, akibatnya dia tidak bisa berlari lagi dengankencang.

Empat orang yangawalnya berbincang-bincang dengannya lalu menghadangnya dari arah depan, Mackolalu ditangkap oleh dua orang dari mereka. Dengan memegang kerah baju, Macko laludibanding dengan keras oleh dua orang itu di jalan aspal, hanya beberapa meterdi depan pangkalan ojek. Setelah dibanting, Macko ditelentangi dengan posisiperut ke bawah dan kepala menghadap ke samping. Salah satu saksi yang merasapenasaran dengan kejadian ini, lalu berupaya melihat dengan jarak yang dekat,sekitar belasan meter dari posisi Macko ditelentangi. Tidak lama setelah itu, priayang tadinya memegang senjata SS1 mendatangi Macko lalu lalu menembak punggung Mackosebanyak dua kali dengan jarak sekitar satu meter.

Salah satu saksimata yang tadinya berdiri hanya dua puluhan merer, sempat melihat kaki Mackobergemetar dan sesaat mulai berhenti karena punggunnya ditembak sebanyak duakali dari jarak dekat. Saksi tidak mendengar suara Macko saat ditembak. Dalamkondisi tubuh berlumuran darah dan kritis, tubuh Macko kemudian diseret oleh 2 orangpria berpakaian preman lain yang tadinya keluar dari mobil Avanza silver dansempat mengeluarkan pistol saat akan menyergap Macko. Tubuh Macko laludimasukan dalam mobil Avanza silver yang tadinya sudah diparkir tidak jauh darilokasinya ditembak.

Pria yangmemegang senjata laras panjang dan menembak punggung Macko lalu berjalankembali ke arah mobilnya yang diparkir berjarak sekitar 40-an meter dari lokasipenembakan. Salah satu saksi yang tadinya menyaksikan dari jarak dekatperistiwa penembakan ini, lalu panik dan berlari membalik ke arah posinyasemula berdiri, yakni dekat putaran taksi sambil meneriakan rekan-rekannya yanglain untuk menghindar karena Macko sudah ditembak. Mereka lalu mencari posisi yanglebih aman diantara sudut-sudut ruko dan warung yang berada tidak begitu jauh dilokasi penembakan sambil terus melihat pria yang memegang senjata laras panjangjenis SS1 berjalan santai menuju mobil Daihatsu.

Pria ini lalumemasukan senjatanya ke dalam mobil lalu menghidupkan mesin, siap dijalankan. Sebelumnya,beberapa orang yang tadinya keluar sambil memegang pistol dari dalam mobil avanzabiru dan mobil kijang berwarna coklat, sudah lebih awal masuk kembali ke dalammobil mereka. Kedua mesin mobil dihidupkan, beberapa detik kemudian mobilkijang langsung melaju lebih awal disusul mobil Avanza silver yang membawatubuh Macko. Setelah itu disusul lagi oleh mobil Daihatsu yang dikemudiakanpria berbadan kekar yang sebelumnya memegang senjata laras panjang SS1 danmenembak punggung Macko.

Ketiga mobiltersebut langsung melaju dengan cepat ke arah rumah sakit Bhayangkara PoldaPapua, melewati arah Abepura menuju Kotaraja. Keempat pria yang awalnyaberbicara dan ikut terlibat menangkap Macko tiba-tiba menghilang entah kemana. Peristiwapenembakan ini juga disaksikan oleh sebagian besar tukang ojek di pangkalan,penjual pinang, sopir taxi, dan warga yang sempat melintas di lokasi. Dua saksiyang saya wawancarai mengatakan, saat itu mereka masih tetap pada posisi memantaudan menyelinap diantara sebuah toko bangunan.

 

 B.Aksi Huru-Hara/Kerusuhan

 Menurut sejumlahsaksi mata yang saya wawancarai secara terpisah di tempat berbeda, beberapamenit setelah tubuh Macko dibawa para penembak, masyarakat asal Wamena (PegununganTengah Papua) dan sejumlah pria Papua yang sempat menyaksikan peristiwapenembakan ini mulai terbakar emosi. Mereka lalu melakukan aksi pelemparan danpengrusakan terhadap sejumlah toko, warung, apotik dan kios yang berada disekitar putaran Taxi Perumnas 3. Seketika itu juga suasana sekitar depanputaran taxi Perumnas 3 tiga menjadi rusuh. Para pemilik usaha seperti; toko,kios, warung/rumah makan, apotik dan sebagainya merasa panik lalu menutup usahamereka. Saat itu juga tersiar kabar ke seantero Kota Jayapura bahwa di Perumnas3 Waena telah terjadi kerusuhan.

Massa simpatisanKNPB yang mayoritas merupakan masyakat asal wilayah pegunungan tengah Papua (Wamenadan sekitarnya) saat mengetahui bahwa Macko telah ditembak oleh aparat keamananIndonesia, mereka kemudian termobilisasi di dua tempat berbeda, yakni disekitar putaran taksi Perumnas 3 dan di depan Museum Budaya Papua Expo Waena. Disekitar putaran taksi Perumnas 3 yang menjadi pusat huru-hara, massa yangberjumlah puluhan orang terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama melakukanaksi pengrusakan yang dimulai dari sebuah kios foto copi yang berada diseberang jalan masuk kompleks perumahan dosen Universitas Cenderawasih (Uncen)Otto Wospakrik.

Disitu beberapaorang lalu membakar sebuah motor yang berada dalam kios foto copi sehinggabagian depan bangunannya ikut terbakar. Di depan putaran taksi Perumnas 3, massaselain merusak kios, toko dan warung, mereka juga mengumpulkan dan membakarsejumlah  motor yang diparkir di jalanatau ditemui di depan toko dan tidak sempat diselamatkan pemiliknya. Massakelompok kedua yang sempat melakukan pengrusakan di depan ruko dekat putarantaksi, selain memblokir jalan dengan membakar beberapa motor di tengah jalan,mereka juga membakar sebuah bengkel yang bangunannya menyatu dengan bangunanruko, beberapa meter ke depan dari putaran taksi Perumunas 3. Ini menyebabkanseluruh isi bengkel yang di dalamnya terdapat belasan motor ikut hangusterbakar.

Api yangmembakar isi bengkel ini menjalar dan membakar sebuah toko pada lantai bawahdan atas yang bangunannya menyatu dengan bengkel di ruko ini. Sementara parapemilik usaha di ruko ini umumnya panik, mereka memilih menghindarmenyelamatkan diri. Massa sempat membakar sebuah mobil avanza yang diparkirdibawah ruko, dekat sebuah toko yang di depannya ada anjungan mesin ATM BankMandri yang juga dirusak. Tidak hanya itu, massa yang marah juga membakar tigamobil lainnya yang diparkir di depan toko dan warung/kios di kawasan ini.Setelah melakukan pengrusakan selama kurang lebih satu (1) jam, massa lalumenghindar membubarkan diri secara acak karena melihat polisi mulaiberdatangan.

Massa yangmembubarkan diri secara terpencar ada yang lari memasuki area dalam Perumnas 3,ada yang menghindar ke arah Perumnas 2 dan kampung Pokhouw sebelah kali KampWolker. Massa yang menghindar ke arah perbukitan di belakang Asrama Putra danKampus Uncen Waena sempat bergerak sambil menebang beberapa pohon yang di tanamdi tengah jalan dekat gedung kampus Fakultas Teknik agar menghalangi lalulintas kendaraan. Dalam situasi ini para mahasiswa/i yang sejak pagi mengikutiperkuliahan, para dosen dan pegawai di kampus akhirnya panik. Mereka sempatterjebak di kampus selama kurang lebih satu jam dan tidak bisa berjalan pulang,apalagi jalan turun dari kampus sudah diblokir dan dihalangi pepohonan.    

Ketika terjadi huru-haradi Perumnas 3 dan Expo Waena, massa memang telah melakukan penganiaan/kekerasan,pengrusakan dan pembakaran. Aksi penganiayaan telah menyebabkan tiga orangwarga non Papua (pendatang) menderita luka-luka serius. Mereka diantaranya; seorangsiswa kelas 2 SMA bernama Andi Pariang (warga Manado) yang menderita lukabacokan di leher dan lengannya putus karena dipotong dengan parang disekitar  Expo Waena. Dia langsung dibawadan dirawat di Rumah Sakit Dian Harapan (RSDH). Kemudian seorang mahasiswa Uncenlain bernama Jafar (pria Bugis-Makasar) mengalami luka bacokan di kepala danHaris (Jawa), yang mengalami luka bacok di tangan kanan di sekitar Permunas 3.Keduanya lalu dievakuasi ke rumah sakit Polda Bhayangkara untuk menjalaniperawatan intensif.

Sebanyak empatorang lain yang juga sempat dianiaya massa juga mengalai luka-luka. Merekaadalah ; Edi Karapa (39 thn) staf dosen Fakultas Hukum Uncen. Mengalami lukabacok pada pada kepala belakang dan luka tusuk pada tangan kanan serta lukapanah pada kaki kanan. Korban lalu dirawat di rumah sakit Bhayangkara PoldaKotaraja. Indra irianto (18 thn), mengalami luka pada tangan kanan yang patah,luka robek pada leher kanan dan dagu serta tangan kiri. Korban dirawat di RSUDDok2 Jayapura. Zafar Marzuki (28) yang mengalami luka bacok juga dirawat dirumah sakit Polda Bhayangkara. Kemudian Abdul Azis, juga mengalami luka robekdan juga dirawat di RS. Polda Bhayangkara. Sementara seorang pria Papua bernamaYulius Tabuni (adik dari Macko Tabuni) juga ditembak aparat di bagian kaki dansedang dirawat di RS Bhayangkara Polda.

Dalam aksipengrusakan dan pembakaran, terdapat 6 petak rumah toko (ruko) dibakar, 26 unitsepeda motor dibakar, 4 unit mobil dibakar dan 2 unit lainnya dirusak,kios/warung sebanyak 3 petak dirusak, 1 unit mesin ATM milik Bank Mandiridirusak, sejumlah barang-barang telah ikut terbakar dan sempat terjadipenjarahan barang oleh massa. Aksi huru-huru yang terjadi di sekitar Perumnas 3dan Expo Waena juga sempat membuat warga masyarakat sekitar wilayah BumiPerkemahan (Buper) Waena, gelanggang Expo, kampung Yoka, kampung Waena, perumnas1, Perumnas 2 dan Perumnas 3 semakin panik. Kepanikan juga terasa hinggawilayah Abepura, Kotaraja, Tanah Hitam, Abe Pantai, Nafri, Sky Land hingga ke wilayahEntrop, Polimak dan Jayapura Kota.

Akibat darikepanikan ini, sejumlah usaha pertokoan, rumah makan, sekolah, dan aktivitasbisnis dan perkantoran lainnya di wilayah Waena, Abepura hingga Kotarajaberhenti seketika. Dua orang mahasiswi yang saya wawancarai juga menceritaka bahwaberselang setelah satu jam lebih terjadi huru-hara di sekitar Perumnas 3 danExpo Waena, di area kampus Uncen Abepura aparat polisi sempat membuat rentetantembakan sehingga para mahasiswa panik dan berlari mencari tempat yang aman dibalik perbukitan belakang kampus Uncen Abepura. Sebagian besar mahasiswa, dosendan pegawai Uncen juga mencari tempat perlindungan yang aman di dalamgedung-gedung kampus.

 

C.Pengamanan Area          

 Satu jam setelahterjadi huru-hara di sekitar putaran taksi Perumnas 3, sekitar pukul 10.50pagi, sebanyak satu pleton polisi bersenjata lengkap dari Polsekta Abepura dikerahkanuntuk mengamankan situasi dan tiba di tempat kejadian menggunakan 1 truckpolisi. Mereka lalu memblokade area putaran taksi Perumnas 3 dan sebagianmencoba membantu masyarakat memadamkan kobaran api dari ruko dan kios yangmasih terbakar, termasuk puluhan motor dan mobil yang dibakar massa. Tidak lamalalu disusul satu pleton Dalmas Polresta menggunakan dua truck polisi yang langsungmenuju ke arah bukit kampus Uncen. Para anggota polisi ini sempat berhenti disekitar gedung kampus Fakultas MIPA dan Fakultas Teknik sambil membuat rentetantembakan ke udara.

Rentetantembakan ini membuat mahasiswa, dosen dan pegawai kampus yang masih terjebak diarea kampus bertambah panik. Aparat kepolisian yang sudah berada di kampus kemudianmembersihkan jalan yang diblokir dengan pepohonan dan mengawal para mahasiswa,dosen dan pegawai turun untuk pulang. Ada yang menggunakan kendaraan danberjalan kaki secara beriringan. Berselang sekitar pukul 11.00 siang, sebanyaktiga pleton anggota Dalmas Polda dan Polresta yang terdiri dari anggota brigademobil menggunakan tiga truck polisi yang dipimpin wakli kepala kepolisianPapua, Brigjen Polisi Paulus Waterpauw dan Kapolresta Jayapura AKBP AlredPapare tiba di area putaran taxi Perumnas 3.

Sejumlah aparatkepolisian yang sebelumnya berjaga-jaga di depan gapura kampus Uncen Waenasempat melarang para mahasiswa/i yang hendak mengambil gambar mereka danperistiwa huru-hara ini dengan HP maupun camera. Sementara sebagian anggotapolisi lalu melanjutkan perjalanan menyisir kampus Uncen hingga ke arah gedungRektorat. Sebagian lagi dengan dilengkapi dua kendaraan baracuda langsungmenuju Asrama Putra Uncen yang disebut Rusunawa (asrama tingkat berlantaiempat) dan terus melakukan penyisiran hingga ke jembatan kali Kamp Wolker diujung asrama. Ini dilakukan karena sempat tersiar kabar bahwa ada sekelompokmassa bersenjatakan panah dan parang yang telah melakukan pengrusakan sedangterkonsentrasi di ujung jembatan.

Tidak lamakemudian sekitar pukul 11.20, sebanyak 1 kompi Yonif 751 Raider dibawahpimpinan Komandan Kodim (Dandim) 1701 Jayapura, Letkol Inf. Rano Tilar tiba dilokasi putaran taksi Perumnas 3. Setelah melihat sejumlah bangunan yang dirusakdan dibakar massa, termasuk beberapa mobil dan puluhan motor yang ikut dibakar,sekitar pukul 11. 25 siang, Wakapolda Papua, Kapolresta Jayapura dan DandimJayapura bergeser dengan menggunakan mobil dinas masing-masing didampingigabungan anggota polisi dan tentara bergerak menuju Asrama Putra Uncen Waena.Mereka kemudian tiba di asrama Rusunawa yang sebelumnya dicurigai sebagai basisanggota KNPB. Para petinggi keamanan ini lalu memerintahkan gabungan aparatTNI/Polisi mengamankan seluruh area Asrama Putra Uncen yang meliputi ; 4 block AsramaRusunawa berlantai empat dan 6 unit asrama lainnya yang berlantai dua.

Setelahmengamankan lokasi, sekitar seratusan penghuni asrama yang tidak sempatmenghindar dari penyisiran aparat lalu dikumpulkan di block 2 Asrama Rusunawa.Diantaranya mereka terdapat beberapa mahasiswi, temasuk mereka yang bukanmahasiswa tapi telah menempati asrama. Salah seorang mahasiswa lalu bertindakmenjadi juru bicara bagi para penghuni asrama kepada pimpinan aparat keamananyang saat itu berdiri dihadapan mereka. Juru bicara mahasiswa ini lalu memintapara penghuni tenang dan tidak usah panik (takut) dan lari, sebab dirinya akanmenjadi jaminan sekaligus juru bicara bagi mereka kepada aparat keamanan.Setelah itu dia meminta para penghuni semuanya duduk untuk mendengarkan arahandari Kapolresta Jayapura.

Kemudian KapolrestaJayapura, AKBP Alfred Papare, memberikan pengarahan selama kurang lebih 15menit, sekaligus memberi jaminan bahwa mereka (para penghuni asrama) tidak akandipukul ataupun ditahan oleh aparat keamanan. Selain itu Kapolresta jugameminta agar mereka harus ikut menjaga keamanan dan ketertiban dengan tidak ikutterlibat melakukan hal-hal yang tidak dinginkan. Setelah berbicara, Kapolresta kemudianmeminta bantuan dari para penghuni asrama yang ada agar memberi kesempatan bagiaparat melakukan penggeledahan di kamar-kamar penghuni. Aparat polisi danbrimob kemudian diperintahkan menggeledah tiap kamar yang dimulai dari gedungblock 1 asrama rusunawa hingga block 4, dilanjutkan ke gedung asrama unit 1hingga unit 6.

Saat prosespenggeledahan masih dilakukan di kamar-kamar penghuni asrama, sekitar pukul12.10 Kapolda Papua, B.L.Tobing dengan mobil dinas yang dikawal sejumlah pengawalnyatiba di lokasi asrama rusunawa. Kapolda sempat memberi arahan dan nasehat yangintinya hampir sama sepeti yang sudah disampaikan Kapolresta. Diantaranya,meminta penghuni yang terdiri dari mahasiswa agar tidak ikut-ikutan terlibatmelakukan aksi-aksi yang melawan Pemerintah Indonesia dan menggangu keamanan,namun sebagai mahasiswa mereka harus fokus melaksanakan studi. Setelahberbicara selama beberapa menit, Kapolda memanggil Kapolresta AKBP AlfredPapare untuk meminta penjelasan darinya terkait pengamanan yang sudah dilakukanaparat kepolisian bersama TNI di lokasi.

Wakapolda,Brigjend Polisi, Paulus Waterpauw selanjutnya memberi pengarahan dan nasehatlanjutan selama hampir 60 menit saat proses penggeladahan kamar-kamar asramaterus dilakukan. Dalam melakukan penggeladahan, aparat juga menyita sejumlah handphone (HP) yang dimiliki para mahasiswa penghuni asrama dan laptop mereka.Membentak dan memarahi para mahasiswa dengan kasar. Seorang mahasiswa bernamaMarthinus Asmuruf yang saat itu sedang sakit dan tidak bisa menghindar bersamarekan-rekan yang lain, sempat berbaring di kamarnya di Unit 3. Saat aparatmelakukan penggeledahan di kamar-kamar asrama, karena merasa ketakutan disertaikondisi yang sedang sakit, Marthinus terpaksa memilih bersembunyi di salah satuloteng dekat kamar mandi. Tapi dia akhirnya ditemukan oleh aparat yangmelakukan penggeledahan di celah loteng yang bolong. Marthinus lalu disuruhturun dan dia sempat dipukul beberapa kali di muka dan badan serta disuruhbergabung dengan ratusan penghuni asrama yang sudah lebih awal dikumpulkan diblock 2 Asrama Rusunawa.

Pada saatdilakukan penggeledahan, aparat polisi dan brimob telah menemukan sejumlahbarang yang dinilai berpotensi mengganggu keamanan. Diantaranya; 2 parang, 2buah senapan angin, 1 buah pistol, 1 buah bom Molotov yang bungkusnya terbuatdari kertas, I buah golok,1 buah pisau, 40 anak panah dan 5 busur, 5 ketapel, 5tas gendong, 1 pasang sepatu pasang PDL, 1 buah bendera KNPB (ukuran 1x2meter), 8 pasang baju loreng dan 1 baju loreng yang disudut kanan terdapat logobendera bintang kejora, 1 buah borgol, 1 buah pipa besi, 2 bendera bintangkejora (1x1,5 meter dan 10x20 cm), 3 buah kapak, 2 sabit/cerulit, 1 bukuberjudul “Tindakan Bebas Memilih di Papua Barat” yang ditulis sejarawan BelandaPieter Droglever, 3 laptop (2 buah hard disk dan 1 buah camera digital), 1 buahbaret hijau, 1 buah noken, 3 buah petasan roket, 1 buah pakaian Loreng TNI-ADpangkat Prada (An. Anton Siswa Secata), 30 bokumen KNPB dan 1 buah BenderaAustralia (0,5 x 1,5 meter).      

Akibat dari aksipenyisiran dan penggeledahan yang dilakukan aparat gabungan TNI/Polisi diAsrama Putra Uncen Waena, sebagian besar penghuni yang merupakan mahasiswaterpaksa memilih mengungsi ke keluarganya. Ada yang memilih bersembunyi dibalik hutan yang berada  di belakangasrama maupun hutan di muara kali Kamp Wolker. Memang ada yang sudah kembali keasrama setelah aparat selesai melakukan penyisiran dan penggeledahan, namun sebagianbesar masih takut kembali ke asrama. Tidak hanya para mahasiswa penghuni asramayang mengungsi, sejumlah warga asal Wamena (Pegunungan Tengah Papua) yangumumnya bermukim tidak jauh dari asrama putra Uncen atau yang bermukim disekitar kali KampWolker juga memilih mengungsi ke hutan dibalik bukit. Sebabaparat gabungan TNI/Polisi telah melakukan penyisiran hingga ke rumah-rumahmereka.    

Para penghuniasrama putra Uncen yang umumnya mahasiswa, kini masih merasa resah (kecewa)karena banyak pintu kamar, engsel pintu dan kaca kamar yang dirusak/pecah saatpolisi melakukan penggeledahan. Beberapa orang mahasiswa juga mengeluh karenaHP dan laptop/note mereka telah disita. Padahal di dalam laptop/note bookberisi file data tugas akhir (skripsi) dan banyak data tugas-tugas kuliah,selain mereka juga harus menggunakan laptop/note book untuk mengerjakantugas-tugas perkuliahan. Akibat dari aksi penyisiran yang dilakukan aparatgabungan TNI/Polri di sekitar Asrama Uncen, Kamp Wolker, Perumnas 3, Perumnas 2dan Perumnas 1 pasa aksi huru-hara, warga umumnya merasa panik dan was-was.

Satu harisetelah aksi kerusuhan di Perumnas 3, suasana di sekitar Waena belum sepenuhnyapulih dan berjalan normal. Warga masih tampak ketakutan, apalagi sempat beredarsms gelab dan rumor (isu) bahwa warga Papua asal Wamena Pegunungan Tengah akan melakukanaksi balasan dengan menyerang warga pendatang maupun aset-aset vital lainnya karenakematian Wakil Ketua I Macko Tabuni yang tewas ditembak aparat keamananIndonesia di Perumnas 3. Mengantispasi kemungkinan huru-hara lanjutan, aparatgabungan (TNI/Polri) dikerahkan untuk menjaga keamanan di sudut-sudut KotaJayapura. Penjagaan lebih diperketat di sekitar wilayah Perumnas 3 Waena, Expo Waena,Abepura dan Kotaraja. Aksi pengamanan kota oleh gabungan aparat TNI/Polisimasih berlanjut hingga saat ini.

 

 

 

D.Mengapa Macko Tabuni Ditembak?

 

Penembakan terhadapMacko Tabuni dilakukan karena institusi keamanan (Polisi/TNI) menuduh dirinyaterlibat atas serangkaian kasus-kasus penembakan misterius yang dilakukan OrangTak Dikenal di wilayah Kota Jayapura beberapa minggu sebelumnya. Misalnya,penembakan atas seorang turis (wisatawan) Jerman di pantai Base G Jayapura,kasus penganiayaan, pembunuhan dan pembakaran mobil yang terjadi di pekuburan Waena,kasus penembakan terhadap seorang pelajar SMA Kristen Kalam Kudus di tanjakanSkyland dekat kantor Otonom Kotaraja, penembakan terhadap seorang anggota TNIdi Entrop, penembakan terhadap dua orang pemuda di jalan Sam Ratulangi Jayapura(dekat markas Polda Papua), penembakan terhadap seorang PNS Kodam di belakangKantor Walikota hingga yang terakhir penembakan terhadap seorang tukang ojekyang sekaligu penjaga keamanan (security)sSaga Mall di halaman Kampus FKIP Uncen Abepura.

Akibat daribelum terungkapnya pelaku penembakan misterius dalam serangkaian aksipenembakan tersebut, institusi keamanan, khususnya Polisi dituding oleh publiktidak mampu mengungkap dan menaangkap para pelaku (aktor) dibalik kasus-kasustersebut. Dalam pemberitaan di media massa lokal di Jayapura-Papua maupun medianasional di Jakarta, petinggi institusi kepolisian Indonesia di Jakarta(Kapolri) dan Jayapura (Kapolda) sempat memberi pernyataan yang masih bias dan sebatasspekulasi bahwa pihaknya telah menemukan ciri-ciri pelaku dibalik serangkaianaksi penembakan misterius di Kota Jayapura. Petinggi kepolisian RI jugamengatakan bahwa pihaknya telah berhasil menangkap 3 orang Papua yang didugakuat terlibat dalam aksi-aksi penembakan misterius. Namun sampai kini polisibelum bisa membuktikan keterlibatan 3 orang ini.

Tidak hanya itu,untuk membenarkan kerja-kerja polisi atas penangkapan terhadap 3 orang yangtelah dituduh, aparat kepolisian juga telah menangkap Ketua Umum KomiteNasional Papua Barat (KNPB), Buchtar Tabuni. Sosok Buchtar dituduh ikutmendesain serangkaian aksi penembakan yang di dalamnya melibatkan personilanggota KNPB. Apalagi sebelumnya sempat beredar rumor (isu) bahwa sejumlahpetinggi dan personil KNPB telah memiliki senjata api. Tidak lama kemudian,polisi juga menjadikan Macko Tabuni (wakil ketua I KNPB) sebagai sasarantuduhan dan orang yang harus ditangkap karena juga dituduh terlibat dalamserangkaian aksi-aksi penembakan.

Belakangansetelah Macko Tabuni tewas karena ditembak pada Kamis pagi, 14 Juni 2012 disekitar pangkalan ojek putaran taksi Perumnas 3 Waena, Kapolda Papua Irjenpol.B.L. Tobing dalam penyataan di media massa sangat bertentangan dengan apa yangdisampaikan para saksi mata. Sebab Kapolda mengatakan sebelum ditembak, MackoTabuni telah melawan bahkan merampas senjata anggota polisi (Tim Khusus satuanReskrim Polda Papua) berpakaian preman yang hendak bernegosiasi untukmenangkapnya secara baik-baik. Dari pemberitaan sejumlah media lokal dan salahsatu media terbesar di Tanah Papua yang terbit di Jayapura bernama CenderawasihPos edisi Jumat 15 Juni 2012 Kapolda mengatakan, “Karena anggota melihatmelihat Macko Tabuni (MT) sedang mengarahkan senjatanya ke anggota, sehinggaanggota yang lain memberikan peringatakan ke atas, namun Macko Tabuni tidakmenghiraukannya sehingga anggota menembaknya.”

Kapolda jugamengatakan, Macko telah melawan dengan berupaya menembak polisi yang hendakmenangkapnya dengan mengeluarkan senjata/pistol jenis Taurus No. Seri 915682,No Body XK 255565. Senjata ini menurut Kapolda, ditemukan oleh tim dokter pemeriksadi RS Bhayangkara Polda setelah mayat Macko Tabuni dibawah oleh anggota polisiyang menembaknya. Menurut Kapolda, tim dokter juga menemukan dalam pistol yangdigunakan Macko berisi 6 butir peluru Kaliber 38. Pistol itu diduga milik salahseorang anggota Polres Keerom bernama Briptu Hendra yang hilang 2010 lalukarena dicuri di rumahnya. Lagi menurut Kapolda bahwa di dalam noken yangdikenakan Macko, tim dokter juga menemukan 1 selongsong peluru. Sementarapistol tersebut kata Kapolda telah dikirim ke tim laboratorium forensik(Labfor) Markas Besar (Mabes) Polri di Jakarta untuk uji proyektil, disamakandengan proyektil yang sebelumnya ditemukan dari aksi-aksi penembakan misterius.Dengan begitu jika sama, maka Macko Tabuni, dan kawan-kawan dipastikan terlibatdalam serangkaian aksi-aksi penembakan misterius yang selama ini terjadi diKota Jayapura.   

Yang jelas, sebelumterjadinya serangkaian aksi penembakan misterius, penembakan awalnya menimpaseorang turis Jerman di pantai Base G. Padahal Kota Jayapura sebelumnyaaman-aman saja, tidak pernah terjadi penembakan misterius. Anehnya, penembakanawal terhadap warga Jerman terjadi hanya beberapa hari seusai Sidang UniversalPeriodical Review(UPR) Dewan HAM PBB Session ke 13 yang berlangsung di JenewaSwiss. Dalam sidang ini, beberapa negara seperti Perancis, Jerman, Jepang dansebagainya telah mempersoalkan rangkaian kasus pelanggaran HAM yang mash terjadidi Indonesia. Salah satunya soal buruknya situasi pelanggaran HAM yangdilakukan aparat keamanan Indonesia di Papua Barat (West Papua). Negara-negaratersebut juga dikabarkan sempat mengkritik dan mempermalukan PemerintahIndonesia karena maraknya kasus-kasus pelanggaran HAM yang belum dituntaskan diPapua dan justru sebaliknya pelanggaran HAM masih terus terjadi. *)

___________

Foot note:

[1]Laporan ditulis berdasarkan hasilwawancara dengan beberapa saksi mata dan pengamatan langsung saat kejadian.

 

MENLU RI BERBOHONG DI SIDANG HAM PBB

Posted on May 25, 2012 at 4:45 PM Comments comments (4)

Marty Natalegawa Berbohong Di UPR, Pemerintah RI Ditekan Soal HAM (video)


KabarIndonesia - Beberapa jam lalu, catatan HAM Indonesia ditinjau oleh Dewan HAM PBB dalam sidang periodik ke-13 di Jenewa, Swiss. Isu-isu kunci, seperti perlindungan atas kebebasan beragama atau situasi HAM di Papua, diangkat oleh banyak negara anggota PBB yang turut dalam kajian HAM.

Banyak anggota Komisi HAM Asia atau AHRC (Asian Human Rights Commission) dan organisasi-bawahannya ALRC (Asian Legal Research Center) prihatin dengan penegakkan HAM di Indonesia. Atas situasi diskriminatif yang dialami kaum minoritas di Indonesia, Swedia, Jerman dan Swiss menyatakan kekecewaannya. Kelompok minoritas di Indonesia, seperti Ahmadiyah, Syiah, Baha’i dan Kristen. Mereka mendesak Pemerintah Indonesia untuk mengambil tindakan tegas terhadap mereya yang menindas dan melakukan tindak pidana hingga nyawa yang meregang dari kelompok-kelompok minoritas.

“Tanggapan oleh pemerintah Indonesia atas isu-isu dan pelanggaran HAM yang dibahas dalam kajian ini adalah sangat mengecewakan, karena (jawaban) mereka sering hanya berisi penolakan dan menunjukkan kurangnya rasa hormat bagi korban dan hak-hak mereka,” kata Wong Kai Shing, Direktur Eksekutif AHRC. Hal ini terungkap dalam laporan Situs Asian Human Rights Commission (23/5, AHRC-PRL-016-2012), yang sedang mengikuti kegiatan di Jenewa, Swiss, tanggal 23-26 Mei.

 

Marty Disindir Habis

Seperti disindir sejumlah media asing, Menlu RI Marty Natalegawa dianggap berbohong, ketika memimpin delegasi Indonesia mempertanggung-jawabkan tindakan diskriminatif Pemerintah Indonesia terhadap kaum Minoritas. Marty membantah sinyalemen kelambanan pemerintah Indonesia tentang perlindungan dan penghormatan terhadap kebebasan beragama.”Pemerintah Indonesia menghormati semua agama sebagai sama.”

Media asing menganggap klaim Marty bertentangan dengan semua laporan lapangan, dan tidak bersesuaian dengan, misalnya, perda-perda diskriminatif di negeri ini.Sejumlah negara, termasuk Perancis, Jepang dan Selandia Baru, mengangkat situasi di Papua, yang mencakup kekerasan yang makin meluas, penangkapan sewenang-wenang dan penahanan, serta pembatasan sah terhadap kebebasan berekspresi dan berkumpul.Prancis menyebut secara langsung perihal kesulitan media asing memperoleh akses untuk masuk ke Papua.

Sementara itu, AS dan Jerman mengangkat artikel 106 dan 110 KUHP yang digunakan mengkriminalkan para aktivis HAM di Papua.Natalegawa menyatakan bahwa bahwa semua pelaku pelanggaran HAM di Papua sedang bertanggung jawab di ‘pengadilan yang transparan dan terbuka’. Sebaliknya, AHRC dan kelompok hak asasi mendokumentasikan kasus-kasus penyiksaan dan kekerasan yang tidak mendapat tanggapan yang memadai dari pemerintah Indonesia.

“Penolakan terhadap sejumlah pelanggaran HAM oleh militer (dan Brimob) di provinsi Papua dengan alasan impunitas (kewajiban keamanan Negara) adalah tidak dapat dipertanggung-jawabkan,” kata sindir Wong Kai Shing. “Respon Pemerintah Indonesia terhadap semua tindakan pelanggaran HAM amat mengecewakan. Sikap Pemerintah RI itu merupakan kemunduran besar bagi harapan mereka yang seharusnya mendapat perlindungan yang lebih baik dan menikmati hak asasi manusia di negeri ini,” pungkas Wong Kai.

Sejumlah pihak menganjurkan Pemerintah Indonesia untuk melaksanakan rekomendasi Komisi HAM PBB atau Indonesia tidak mendapat tempat terhormat dalam pergaulan internasional. Kekecewaan atas laporan Pemerintah RI dapat berdampak ketidak-percayaan pada elbagai pbidang-bidang lainnya, dalam hubungan bilateral maupun multilateral. Ini lampu kuning untuk Pemerintahan SBY.

Sumber : www.kabarindonesia.com

photo : nasionalisrakyatmerdeka.wordpress.com

Video: UPR

http://www.unmultimedia.org/tv/webcast/2012/05/final-remarks-upr-report-of-indonesia-13th-universal-periodic-review.html

 


Grail Knight Foundation's United Nations Report on the State of WorldIndigenous People and Conditions of West Papu

Posted on May 22, 2012 at 3:45 AM Comments comments (2)



Grail Knight Foundation United Nations Report on the State of World Indigenous People and conditions of West Papua

 

By Charles Johnson

Date: 05/21/2012


Based upon documentation in the United Nations publication, “State of the World Indigenous People”,

the UN recognizes the critical nature of indigenous resistance. The UN additionally comprehends the need and demand of indigenous self determination even postulates the support of indigenous self determination globally. However in light of all the evidence documented and “historicalized” by the UN, the many well documented cases of genocide, as in West Papua, fall seemingly upon deaf ears as no true response nor demand for accountability for crimes against humanity have been enforced by the United Nations.

As a member of the West Papua Liberation Organization (OPPB) ambassador delegation to the United Nations, it is my responsibility to report that the West Papuan people continue to endure systemic discrimination, the exclusion of political, economic and social powers while security sweeps that imprison peaceful demonstrators and torture with impunity continues to this very day. This continued and prejudice Indonesian colonization has caused on going displacement from indigenous lands and the deprivation of sustainable resources fueling the Papuan people to the precipice of extinction.

Every form of discrimination against the indigenous of West Papua is easily recognized and well documented yet continues with impunity. Today no sanctions exist against Indonesia to force accountability for humanitarian violations and crimes. The United States as well as Australia and other European countries, including Russia and China, negotiate military arms and supply contracts while offering anti terrorist and special force training that will ultimately be used against people with arrows and spears.

The final road taken by the United Nations regarding the criminal treatment and criminal colonization of West Papua by Indonesian authorities will be the UN position held towards indigenous people globally.

Today slow genocide has continued and the People of the unrecognized Republic of West Papua will become extinct over the next decade. Indonesia has closed all borders of West Papua to Journalists, Humanitarian Aid workers, UN investigators. The UN officials state that they make unanswered phone calls to the Indonesian government and has told our delegation that they can not endorse aid at this time advising to seek international support individually.

Our current demand, as is many the demand by many international humanitarian agencies and watch groups:

Pressure Indonesian government, through sanctions and other, to release all prisoners incarcerated for peaceful protests and flying of the Morning Star flag.

End torture and bring accountability to those responsible for crimes against humanity.

Force accountability on foreign corporations involved in acts related to genocide and crimes against humanity operating within West Papua, i.e. Freeport McMoran

Give recognition to West Papua self determination empowering the Republic of West Papua as a sovereign people.

Reference:

1. Human Rights Watch report to the UN on genocide in West Papua (2011)

2. Dr. Octavious Mote UN report on West Papua (2012)

3. State of The World's Indigenous People (UN 2012)

4. Gender and Indigenous People (UN21012)

5. West Papua Media (2012)



http://www.grailknightfoundation.com


WEST PAPUA LIBERATION ORGANIZATION


PAPUA PROVINSI ILEGAL DI NKRI

Posted on May 14, 2012 at 11:05 AM Comments comments (1)

PAPUA PROVINSI ILEGAL DALAM NKRI

Capture and Written by John Anari.

PAPUA ADALAH SALAH SATU PROVINSI ILEGAL DALAM NEGARA NKRI KARENA HANYA DISAHKAN MENJADI PROVINSI KE-26 MELALUI PENPRES NO. 1 TAHUN 1962. SEDANGKAN SEMUA PROVINSI DI NKRI DISAHKAN MELALUI UNDANG-UNDANG RI. HAL SERUPA TERJADI UNTUK PROVINSI PAPUA BARAT YANG DISAHKAN MELALUI INPRES NO. 1 TAHUN 2003 SERTA TIMOR LESTE YANG DISAHKAN MELALUI KETETAPAN MPRS.

MENGAPA DEMIKIAN ? INI DISEBABKAN KARENA PAPUA DAN TIMOR LESTE TELAH BERADA DALAM DAFTAR DAERAH TAK BERPEMERINTAHAN SENDIRI DI PBB (NON SELF GOVERNING TERRITORY) SEJAK TAHUN 1945. JADI PRESIDEN NKRI BERHAK MENGOTAK-NGATIK PAPUA DENGAN CARANYA SENDIRI, BAIK OTONOMI, PEMEKARAN, REPELITA, FEDERAL, REFERENDUM, MAUPUN PEMBERIAN LANGSUNG KEMERDEKAAN PAPUA ADALAH HAK MUTLAK PRESIDEN NKRI SEBAB TAK ADA UNDANG-UNDANG YANG MENGIKAT PROVINSI INI.

LIHAT CUPLIKAN PENPRES NO. 1 PADA GAMBAR DI BAWAH INI:


JFK, Indonesia, CIA & Freeport Sulphur

Posted on January 3, 2012 at 3:15 AM Comments comments (0)

Return This article first appeared in Probe magazine and is reprinted here with express permission. An updated version of this article can be found in the new book, The Assassinations.

JFK, Indonesia,

CIA & Freeport Sulphur

by Lisa Pease

What is Past is Prologue.

Inscribed on the National Archives, Washington, D.C.

In Part One of this article (Probe, March-April, 1996) we talked about the early years of Freeport up through the Cuban takeover of their potentially lucrative mine at Moa Bay, as well as their run-in with President Kennedy over the issue of stockpiling. But the biggest conflict that Freeport Sulphur would face was over the country housing the world's single largest gold reserve and third largest copper reserve: Indonesia. To understand the recent (March, 1996) riots at the Freeport plant, we need to go to the roots of this venture to show how things might have been very different had Kennedy lived to implement his plans for Indonesia.

Indonesia Backstory Indonesia had been discovered by the Dutch at the end of the 1500s. During the early 1600s they were dominated by the Dutch East Indies Company, a private concern, for nearly 200 years. In 1798, authority over Indonesia was transferred to the Netherlands, which retained dominion over this fifth largest country in the world until 1941, at which time the Japanese moved in during the course of World War II. By 1945 Japan was defeated in Indonesia and Achmed Sukarno and Mohammad Hatta rose to become President and Vice President of the newly independent Indonesia. But within a month of the Sukarno/Hatta proclamation of independence, British army units began landing in Jakarta to help the Dutch restore colonial rule. Four years of fighting ensued. In 1949, the Dutch officially ceded sovereignty back to Indonesia, with the exception of one key area - that of a hotspot which is now known as Irian Jaya or, depending on who you talk to, West Papua.

Authors Gerard Colby and Charlotte Dennett, in their book Thy Will Be Done, explain the situation in what was then called Dutch New Guinea:

To Westerners, New Guinea was like a gifted child pulled in opposite directions by covetous guardians. The Dutch clung to the western half as the sole remnant of their once-vast East Indies empire. Their longtime British allies, acting through Australia, controlled the eastern half. Neighboring Indonesians, on the other hand, thought that all New Guinea was part of their national territory, even if it was still colonized by Europeans.

Dutch New Guinea, or West Irian as the Indonesians called it, was populated by native tribes not far removed from a stone age culture, such as the Danis and the Amungme. When Indonesia fought to claim independence from the Dutch, West Irian became a symbol for both sides that neither wanted to relinquish. It would take the efforts of President Kennedy to eventually pass control of this area to the newly independent Indonesians, removing the last vestiges of Dutch colonialism.

Indonesia experienced various types of government. When Sukarno first rose to power in 1945, foreigners pointed out that Sukarno's rule appeared "fascistic," since he held sole control over so much of the government. Bowing to foreign pressure to appear more democratic, Indonesia instituted a parliamentary system of rule and opened the government to a multiparty system. Sukarno related what followed to his biographer (now cable gossip show host) Cindy Adams:

In a nation previously denied political activities, the results were immediate. Over 40 dissimilar parties sprang up. So terrified were we of being labeled "a Japanese-sponsored Fascistic dictatorship" that single individuals forming splinter organizations were tolerated as "mouthpieces of democracy." Political parties grew like weeds with shallow roots and interests top-heavy with petty selfishness and vote-catching. Internal strife grew. We faced disaster, endless conflicts, hair-raising confusion. Indonesians previously pulling together now pulled apart. They were sectioned into religious and geographical boxes, just what I'd sweated all my life to get them out of.

Sukarno related that nearly every six months, a cabinet fell, and a new government would start up, only to repeat the cycle. On October 17, 1952 things came to a head. Thousands of soldiers from the Indonesian army stormed the gates with signs saying "Dissolve Parliament." Sukarno faced the troops directly, firmly refusing to dissolve parliament due to military pressure, and the soldiers backed down. The result of this was a factionalized army. There were the "pro-17 October 1952 military" and the "anti-17 October 1952 military." In 1955, elections were held and parliamentary rule was ended by vote. The Communists, who had done the most for the people suffering the aftereffects of converting from colonial rule to independence, won many victories in 1955 and 1956. In 1955, Sukarno organized the Bandung Conference at which the famous Chinese Communist Chou En Lai was a featured guest. During the 1955 elections, the CIA had given a million dollars to the Masjumi party-an opposition party to both Sukarno's Nationalist party and the Communist party in Indonesia (called the PKI)-in an attempt to gain political control of the country. But the Masjumi party failed to win the hearts and minds of the people.

In 1957, an assassination attempt was made against Sukarno. Although the actual perpetrators were unknown at the time, both Sukarno and the CIA jumped to use this for propaganda purposes. The CIA was quick to blame the PKI. Sukarno, however, blamed the Dutch, and used this as the excuse to seize all former Dutch holdings, including shipping and flying lines. Sukarno vowed to drive the Dutch out of West Irian. He had already tried settling the long-standing dispute over that territory through the United Nations, but the vote fell shy of the needed two-thirds majority to set up a commission to force the Dutch to sit down with the Indonesians. The assassination attempt provided a much needed excuse for action.

The victories of the Communists, infighting in the army, and the 1957 nationalization of former Dutch holdings, led to a situation of grave concern to American business interests, notably the oil and rubber industries. The CIA eagerly pitched in, helping to foment rebellion between the outer, resource rich, islands, and the central government based in Jakarta, Java.

Rockefeller Interests in Indonesia Two prominent American-based oil companies doing business in Indonesia at this time were of the Rockefeller-controlled Standard Oil family: Stanvac (jointly held by Standard Oil of New Jersey and Socony Mobil-Socony being Standard Oil of New York), and Caltex, (jointly held by Standard Oil of California and Texaco.) In Part I of this article we showed how heavily loaded the Freeport Sulphur board was with Rockefeller family and allies. Recall that Augustus C. Long was a board member of Freeport while serving as Chairman of Texaco for many years. Long becomes more and more interesting as the story develops.

1958: CIA vs. Sukarno "I think its time we held Sukarno's feet to the fire," said Frank Wisner, then Deputy Director of Plans for the CIA, in 1956. By 1958, having failed to buy the government through the election process, the CIA was fomenting a full-fledged operation in Indonesia. Operation Hike, as it was called, involved the arming and training of tens of thousands of Indonesians as well as "mercenaries" to launch attacks in the hope of bringing down Sukarno.

Joseph Burkholder Smith was a former CIA officer involved with the Indonesian operations during this period. In his book, Portrait of a Cold Warrior, he described how the CIA took it upon themselves to make, not just to enact, policy in this area:

before any direct action against Sukarno's position could be taken, we would have to have the approval of the Special Group-the small group of top National Security Council officials who approved covert action plans. Premature mention of such an idea might get it shot down ...

So we began to feed the State Department and Defense departments intelligence ... When they had read enough alarming reports, we planned to spring the suggestion we should support the colonels' plan to reduce Sukarno's power. This was a method of operation which became the basis of many of the political action adventures of the 1960s and 1970s. In other words, the statement is false that CIA undertook to intervene in the affairs of countries like Chile only after being ordered to do so ... In many instances, we made the action programs up ourselves after we had collected enough intelligence to make them appear required by the circumstance. Our activity in Indonesia in 1957-1958 was one such instance.

When the Ambassador to Indonesia wrote Washington of his explicit disagreements with the CIA's handling of the situation, Allen Dulles had his brother John Foster appoint a different Ambassador to Indonesia, one more accepting of the CIA's activities.

In addition to the paramilitary activities, the CIA tried psychological warfare tricks to discredit Sukarno, such as passing rumors that he had been seduced by a Soviet stewardess. To that end, Sheffield Edwards, head of the CIA's Office of Security, enlisted the Chief of the Los Angeles Police Department to help with a porno movie project the CIA was making to use against Sukarno, ostensibly showing Sukarno in the act. Others involved in these efforts were Robert Maheu, and Bing Crosby and his brother.

The Agency tried to keep its coup participation covert, but one "mercenary" met misfortune early. Shot down and captured during a bombing run, Allen Lawrence Pope was carrying all kinds of ID on his person to indicate that he was an employee of the CIA. The U.S. Government, right up to President Eisenhower, tried to deny that the CIA was involved at all, but the Pope revelations made a mockery of this. Not cowed by the foment, as Arbenz had been in Guatemala, Sukarno marshalled those forces loyal to him and crushed the CIA-aided rebellion. Prior to the Bay of Pigs, this was the Agency's single largest failed operation.

1959: Copper Mountain At this point, Freeport Sulphur entered the Indonesian picture. In July, 1959, Charles Wight, then President of Freeport-and reported to be fomenting anti-Castro plots and flying to Canada and/or Cuba with Clay Shaw (see Part I of this article)-was busy defending his company against House Committee accusations of overcharging the Government for the nickel ore processed at the Government-owned plant in Nicaro, Cuba. The Committee recommended that the Justice Department pursue an investigation. Freeport's Moa Bay Mining Company had only just opened, and already the future in Cuba looked bleak. In August, 1959, Freeport Director and top engineer Forbes Wilson met with Jan van Gruisen, managing director of the East Borneo Company, a mining concern. Gruisen had just stumbled upon a dusty report first made in 1936 regarding a mountain called the "Ertsberg" ("Copper Mountain") in Dutch New Guinea, by Jean Jacques Dozy. Hidden away for years in a Netherlands library during Nazi attacks, the report had only recently resurfaced. Dozy reported a mountain heavy with copper ore. If true, this could justify a new Freeport diversification effort into copper. Wilson cabled Freeport's New York headquarters asking for permission and money to make a joint exploration effort with the East Borneo Company. The contract was signed February 1, 1960.

With the aid of a native guide, Wilson spent the next several months amidst the near-stone age natives as he forged through near impassable places on his way to the Ertsberg. Wilson wrote a book about this journey, called The Conquest of Copper Mountain. When he finally arrived, he was excited at what he found:

an unusually high degree of mineralization ... The Ertsberg turned out to be 40% to 50% iron ... and 3% copper ... Three percent is quite rich for a deposit of copper ... The Ertsberg also contains certain amounts of even more rare silver and gold.

He cabled back a message in prearranged code to the soon-to-be President of Freeport, Bob Hills in New York:

... thirteen acres rock above ground additional 14 acres each 100 meter depth sampling progressive color appears dark access egress formidable all hands well advise Sextant regards. </P><P>

"Thirteen acres" meant 13 million tons of ore above ground. "Color appears dark" meant that the grade of ore was good. "Sextant" was code for the East Borneo Company. The expedition was over in July of 1960. Freeport's board was not eager to go ahead with a new and predictably costly venture on the heels of the expropriation of their mining facilities in Cuba. But the board decided to at least press ahead with the next phase of exploration: a more detailed investigation of the ore samples and commercial potential. Wilson described the results of this effort:

[M]ining consultants confirmed our estimates of 13 million tons of ore above ground and another 14 million below ground for each 100 meters of depth. Other consultants estimated that the cost of a plant to process 5,000 tons of ore a day would be around $60 million and that the cost of producing copper would be 16� a pound after credit for small amounts of gold and silver associated with the copper. At the time, copper was selling in world markets for around 35� a pound. From these data, Freeport's financial department calculated that the company could recover its investment in three years and then begin earning an attractive profit.

The operation proved technically difficult, involving newly invented helicopters and diamond drills. Complicating the situation was the outbreak of a near-war between the Dutch-who were still occupying West Irian-and Sukarno's forces which landed there to reclaim the land as their own. Fighting even broke out near the access road to Freeport's venture. By mid-1961, Freeport's engineers strongly felt that the project should be pursued. But by that time, John F. Kennedy had taken over the office of President. And he was pursuing a far different course than the previous administration.

Kennedy and Sukarno "No wonder Sukarno doesn't like us very much. He has to sit down with people who tried to overthrow him." - President Kennedy, 1961

Up until Kennedy's time, the aid predominantly offered to Indonesia from this country came mostly in the form of military support. Kennedy had other ideas. After a positive 1961 meeting with Sukarno in the United States, Kennedy appointed a team of economists to study ways that economic aid could help Indonesia develop in constructive ways. Kennedy understood that Sukarno took aid and arms from the Soviets and the Chinese because he needed the help, not because he was eager to fall under communist rule. American aid would prevent Sukarno from becoming dependent on Communist supplies. And Sukarno had already put down a communist rebellion in 1948. Even the State Department in the United States conceded that Sukarno was more nationalist than Communist.

But the pressing problem during Kennedy's short term was the issue of West Irian. The Dutch had taken an ever more aggressive stance, and Sukarno was assuming a military posture. America, as allies to both, was caught in the middle. Kennedy asked Ellsworth Bunker to attempt to mediate an agreement between the Dutch and Indonesian governments. "The role of the mediator," said Kennedy, "is not a happy one; we are prepared to have everybody mad if it makes some progress."

It did make everybody mad. But it did make progress. Ultimately, the U.S. pressured the Dutch behind the scenes to yield to Indonesia. Bobby Kennedy was enlisted in this effort, visiting both Sukarno in Indonesia and the Dutch at the Hague. Said Roger Hilsman in To Move a Nation:

Sukarno came to recognize in Robert Kennedy the same tough integrity and loyalty that he had seen in his brother, the President, combined with a true understanding of what the new nationalisms were really all about.

So with preliminary overtures having been made to Sukarno and the Hague, Bunker took over the nitty gritty of getting each side to talk to each other. The Dutch, unwilling to concede the last vestige of their once-great empire to their foe, pressed instead for West Irian to become an independent country. But Sukarno knew it was a symbol to his people of final independence from the Dutch. And all knew that the Papuan natives there had no hope of forming any kind of functioning government, having only just recently been pushed from a primitive existence into the modern world. The United Nations voted to cede West Irian fully to Indonesia, with the provision that, by 1969, the people of West Irian would be granted an opportunity to vote whether to remain with or secede from Indonesia. Kennedy seized the moment, issuing National Security Action Memorandum (NSAM) 179, dated August 16, 1962:

With the peaceful settlement of the West Irian dispute now in prospect, I would like to see us capitalize on the U.S. role in promoting this settlement to move toward a new and better relationship with Indonesia. I gather that with this issue resolved the Indonesians too would like to move in this direction and will be presenting us with numerous requests.

To seize this opportunity, will all agencies concerned please review their programs for Indonesia and assess what further measures might be useful. I have in mind the possibility of expanded civic action, military aid, and economic stabilization and development programs as well as diplomatic initiatives.

Roger Hilsman elaborated on what Kennedy meant by civic action: "rehabilitating canals, draining swampland to create new rice paddies, building bridges and roads, and so on."

Freeport and West Irian Kennedy's aid in brokering Indonesian sovereignty over West Irian could only have come as a blow to Freeport Sulphur's board. Freeport already had a positive relationship with the Dutch, who had authorized the initial exploratory missions there. During the negotiation period, Freeport approached the U.N., but the U.N. said Freeport would have to discuss their plans with the Indonesian officials. When Freeport went to the Indonesian embassy in Washington, they received no response.

Lamented Forbes Wilson:

Not long after Indonesia obtained control over Western New Guinea in 1963, then-President Sukarno, who had consolidated his executive power, made a series of moves which would have discouraged even the most eager prospective Western investor. He expropriated nearly all foreign investments in Indonesia. He ordered American agencies, including the Agency for International Development, to leave the country. He cultivated close ties with Communist China and with Indonesia's Communist Party, known as the PKI.

1962 had been a difficult year for Freeport. They were under attack on the stockpiling issue. Freeport was still reeling from having their lucrative facilities expropriated in Cuba. And now they sat, staring at a potential fortune in Indonesia. But with Kennedy giving tacit support to Sukarno, their hopes looked bleak indeed.

Reversal of Fortunes Kennedy stepped up the aid package to Indonesia, offering $11 million. In addition, he planned a personal visit there in early 1964. While Kennedy was trying to support Sukarno, other forces were countering their efforts. Public dissent in the Senate brewed over continuing to aid Indonesia while the Communist party there remained strong. Kennedy persisted. He approved this particular aid package on November 19, 1963. Three days later, Sukarno lost his best ally in the west. Shortly, he would lose the aid package too.

Sukarno was much shaken by the news of Kennedy's death. Bobby made the trip the President had originally planned to take, in January, 1964. Cindy Adams asked Sukarno what he thought of Bobby, and got more than she asked for:

Sukarno's face lit up. "Bob is very warm. He is like his brother. I loved his brother. He understood me. I designed and built a special guest house on the palace grounds for John F. Kennedy, who promised me he'd come here and be the first American President ever to pay a state visit to this country." He fell silent. "Now he'll never come."

Sukarno was perspiring freely. He repeatedly mopped his brow and chest. "Tell me, why did they kill Kennedy?"

Sukarno noted with irony that the very day Kennedy was assassinated, his Chief of Bodyguards was in Washington to study how to protect a president. Looking to the future, he was not optimistic:

I know Johnson ... I met him when I was with President Kennedy in Washington. But I wonder if he is as warm as John. I wonder if he will like Sukarno as John Kennedy, my friend, did.

LBJ and Indonesia As others have noted, foreign policy changed rapidly after Kennedy's death. Donald Gibson says in his book Battling Wall Street, "In foreign policy the changes came quickly, and they were dramatic." Gibson outlines five short term changes and several long term changes that went into effect after Kennedy's death. One of the short term changes was the instant reversal of the Indonesian aid package Kennedy had already approved. Hilsman makes this point as well:

One of the first pieces of paper to come across President Johnson's desk was the presidential determination ... by which the President had to certify that continuing even economic aid [to Indonesia] was essential to the national interest. Since everyone down the line had known that President Kennedy would have signed the determination routinely, we were all surprised when President Johnson refused.

Someone at Freeport was so pleased with Johnson's behavior that he supported his presidential run in 1964: Augustus C. "Gus" Long.

Long had been Chairman at Texas Company (Texaco) for many years. In 1964, he and a bunch of other conservative, largely Republican business moguls, joined together to support Johnson over Goldwater. The group, calling themselves the National Independent Committee for Johnson, included such people as Thomas Lamont, Edgar Kaiser of Kaiser Aluminum, Robert Lehman of Lehman Brothers, Thomas Cabot of Cabot Corporation of Boston, and many other luminaries of the business world.

Long had two toes in the Indonesian fray-one for Freeport, one for Texaco. In 1961, Caltex-jointly owned by Standard Oil of California (Socal) and Texas Company (Texaco)-was one of the three major oil companies in Indonesia forced to operate under a new contract with Sukarno's government. Under the new terms, 60% of all profits had to be given to the Indonesian government. So he had two reasons to be concerned by Kennedy's support of Sukarno's brand of nationalism, which threatened the interests of both companies in which he had a substantial stake.

In Part I, we mentioned that Long had done "prodigious volunteer work" for Presbyterian Hospital in New York, said by a former employee of their PR firm, the Mullen Company, to be a "hotbed of CIA activity." Now we add that Long was elected President of Presbyterian Hospital two years running-1961 and 1962. In 1964, Long retired his role as Chairman of Texaco. He would be reinstated as Chairman in 1970. What did he do in the interim?

In March of 1965, Long was elected a director of Chemical Bank-another Rockefeller-controlled company.

In August of 1965, Long was appointed to the President's Foreign Intelligence Advisory Board, where he would approve and suggest covert activities.

In October of 1965, covert activities sealed Sukarno's fate.

1965: The Year of Living Dangerously After Kennedy's death, Sukarno had grown ever more belligerent towards the West. The British were busy forming a new country out of Indonesia's former trading partners Malaya and Singapore, called "Malaysia." Since the area included territory from which the CIA had launched some of its 1958 activities, Sukarno was justifiably concerned by what he felt was an ever tightening noose. On January 1, 1965, Sukarno threatened to pull Indonesia out of the United Nations if Malaysia was admitted. It was and he did, making Indonesia the first nation ever to pull out of the U.N. In response to U.S. pressure on Sukarno to support Malaysia, he cried, "to hell with your aid." He built up his troops along the borders of Malaysia. Malaysia, fearing invasion, appealed to the U.N. for support.

By February, Sukarno could see the writing on the wall:

JAKARTA, Indonesia, Feb. 23 (UPI)-President Sukarno declared today that Indonesia could no longer afford freedom of the press. He ordered the banning of anti-Communist newspapers. ...

"I have secret information that reveals that the C.I.A. was using the Body for the Promotion of Sukarnoism to kill Sukarnoism and Sukarno," he said. "That's why I banned it." (New York Times, 2/24/65)

The country was in disarray. Anti-American demonstrations were frequent. Indonesia quit the International Monetary Fund and the World Bank. The press reported that Sukarno was moving closer to the Chinese and Soviets. Sukarno threatened to nationalize remaining U.S. properties, having already taken over, for example, one of the biggest American operations in Indonesia, the Goodyear Tire and Rubber Company. And then, in an unexpected move, Singapore seceded from Malaysia, weakening the newly formed state bordering Indonesia.

With American money interests threatened, all the usual carrots of foreign aid shunted, no leverage via the IMF or World Bank, and Freeport's Gus Long on the President's Foreign Intelligence Advisory Board, it was only a matter of time, and not much, at that.

October 1, 1965: Coup or Counter-Coup? INDONESIA SAYS PLOT TO DEPOSE SUKARNO IS FOILED BY ARMY CHIEF; POWER FIGHT BELIEVED CONTINUING

KUALA LUMPUR, Malaysia. Oct. 1-An attempt to overthrow President Sukarno was foiled tonight by army units loyal to Gen. Abdul Haris Nasution, the Indonesian radio announced. ...

In Washington, a State Department spokesman said Friday the situation in Indonesia was "extremely confused." Robert J. McCloskey told a news conference the State Department was getting reports from the American Embassy at Jakarta, but "it is not presently possible to attempt any evaluation, explanation, or comment."

Late yesterday, a mysterious group calling itself the 30th of September Movement seized control of Jakarta.

Colonel Untung, who had announced over the Indonesian radio that he was the leader of the movement, said the group had seized control of the Government to prevent a "counterrevolutionary" coup by the Generals' Council. (New York Times, 10/2-3/65, International Edition)

In a strange, convoluted move, a group of young military leaders killed a bunch of older, centrist leaders who, they claimed, were going to-with the help of the CIA-stage a coup against Sukarno. But what happened in the aftermath of this turned Indonesia into one of the bloodiest nightmares the world has ever seen. This original counter-coup was branded a coup attempt instead, and painted as brightly Red as possible. Then, in the disguise of outrage that Sukarno's authority had been imperiled, Nasution joined with General Suharto to overthrow the "rebels." What started ostensibly to protect Sukarno's authority ended up stripping him of it wholly. The aftermath is too horrible to describe in a few words. The numbers vary, but the consensus lies in the range of 200,000 to over 500,000 people killed in the wake of this "counter-coup." Anyone who had ever had an association with the Communist PKI was targeted for elimination. Even Time magazine gave one token accurate description of what was happening:

According to accounts brought out of Indonesia by Western diplomats and independent travelers, Communists, Red sympathizers and their families are being massacred by the thousands. Backlands army units are reported to have executed thousands of Communists after interrogation in remote rural jails. ... Armed with wide-bladed knives called parangs, Moslem bands crept at night into the homes of Communists, killing entire families and burying the bodies in shallow graves. ... The murder campaign became so brazen in parts of rural East Java that Moslem bands placed the heads of victims on poles and paraded them through villages.

The killings have been on such a scale that the disposal of the corpses has created a serious sanitation problem in East Java and northern Sumatra, where the humid air bears the reek of decaying flesh. Travelers from those areas tell of small rivers and streams that have been literally clogged with bodies; river transportation has at places been impeded.

Latter day thumbnail histories frequently depict the actions like this: "An abortive Communist coup in 1965 led to an anti-Communist takeover by the military, under Gen. Suharto." (Source: The Concise Columbia Encyclopedia.) But the truth is far more complex. A persuasive indicator for this lies in the following item, cited in a remarkable article by Peter Dale Scott published in the British journal Lobster (Fall, 1990). Scott quotes an author citing a researcher who, having been given access to files of the foreign ministry in Pakistan, ran across a letter from a former ambassador who reported a conversation with a Dutch intelligence officer with NATO, which said, according to the researcher's notes,

"Indonesia was going to fall into the Western lap like a rotten apple." Western intelligence agencies, he said, would organize a "premature communist coup ... [which would be] foredoomed to fail, providing a legitimate and welcome opportunity to the army to crush the communists and make Soekarno a prisoner of the army's goodwill." The ambassador's report was dated December 1964.

Later in this article, Scott quotes from the book The CIA File:

"All I know," said one former intelligence officer of the Indonesia events, "is that the Agency rolled in some of its top people and that things broke big and very favorable, as far as we were concerned."

Ralph McGehee, a 25-year veteran of the CIA, also implicated the agency in an article, still partially censored by the CIA, published in The Nation (April 11, 1981):

To conceal its role in the massacre of those innocent people the C.I.A., in 1968, concocted a false account of what happened (later published by the Agency as a book, Indonesia-1965: The Coup That Backfired). That book is the only study of Indonesia politics ever released to the public on the Agency's own initiative. At the same time that the Agency wrote the book, it also composed a secret study of what really happened. [one sentence deleted.] The Agency was extremely proud of its successful [one word deleted] and recommended it as a model for future operations [one-half sentence deleted].

Freeport After Sukarno According to Forbes Wilson, Freeport had all but given up hope of developing its fabulous find in West Irian. But while the rest of the world's press was still trying to unravel the convoluted information as to who was really in power, Freeport apparently had an inside track. In the essay mentioned earlier, Scott cites a cable (U.S. delegation to the U.N.) which stated that Freeport Sulphur had reached a preliminary "arrangement" with Indonesian officials over the Ertsberg in April of 1965, before there could legitimately have been any hope in sight.

Officially, Freeport had no such plans until after the October 1965 events. But even the official story seemed odd to Wilson. As early as November, a mere month after the October events, longtime Chairman of Freeport, Langbourne Williams, called Director Wilson at home, asking if the time had now come to pursue their project in West Irian. Wilson's reaction to this call is interesting:

I was so startled I didn't know what to say.

How did Williams know, so soon, that a new regime was coming to power? Sukarno was still President, and would remain so formally until 1967. Only deep insiders knew from the beginning that Sukarno's days were numbered, and his power feeble. Wilson explains that Williams got some "encouraging private information" from "two executives of Texaco." Long's company had managed to maintain close ties to a high official of the Sukarno regime, Julius Tahija. It was Tahija who brokered a meeting between Freeport and Ibnu Sutowo, Minister of Mines and Petroleum. Fortune magazine had this to say about Sutowo (July 1973):

As president-director of Pertamina [the Government's state-owned oil company], Lieutenant General Ibnu Sutowo receives a salary of just $250 a month, but lives on a princely scale. He moves around Jakarta in his personal Rolls-Royce Silver Cloud. He has built a family compound of several mansions, which are so large that guests at his daughter's wedding party could follow the whole show only on closed-circuit television.

... The line between Sutowo's public and private activities will seem hazy to Western eyes. The Ramayan Restaurant in New York [in Rockefeller Center-author's note], for example, was bankrolled by various U.S. oil-company executives, who put up $500,000 to get into a notoriously risky sort of business. Presumably its backers were motivated at least in part by a desire to be on amiable terms with the general.

But beyond these dubious accolades, a hint of something else, as well was revealed:

Sutowo's still small oil company played a key part in bankrolling those crucial operations [during the October 1965 events.]

Given the wealth of evidence that the CIA was deeply involved in this operation, it seems equally likely that Sutowo was acting as a conduit for their funds.

After Sukarno's fall from power, Sutowo constructed a new agreement that allowed oil companies to keep a substantially larger percent of their profits. In an article entitled "Oil and Nationalism Mix Beautifully in Indonesia" (July, 1973), Fortune labeled the post-Sukarno deal "exceptionally favorable to the oil companies."

In 1967, when Indonesia's Foreign Investment Law was passed, Freeport's contract was the first to be signed. With Kennedy, Sukarno, and any viable support for Indonesian nationalism out of the way, Freeport began operations.

In 1969, the vote mandated by the Kennedy brokered U.N. agreement on the question of West Irian independence was due. Under heavy intimidation and the visceral presence of the military, Irian "voted" to remain part of Indonesia. Freeport was in the clear.

The Bechtel Connection Gus Long was a frequent dinner partner of Steve Bechtel, Sr., owner with CIA Director John McCone, of Bechtel-McCone in Los Angeles in the thirties. McCone and Bechtel, Sr. made a bundle off of World War II, split, and went their not so separate ways. Writes author Laton McCartney in Friends in High Places: The Bechtel Story,

[I]n 1964 and 1965, CIA director John McCone and U.S. ambassador to Indonesia Howard Jones briefed Steve Bechtel Sr. on the rapidly deteriorating situation in Indonesia. Bechtel, Socal, Texaco ... had extensive dealings in that part of the world and were concerned because Indonesia's President Sukarno was nationalizing U.S. business interests there. ... In October 1965, in what a number of CIA alumni have since charged was an Agency-backed coup, Sukarno was ousted and replaced by President Suharto, who proved far more receptive to U.S. business interests than his predecessor.

Bechtel was no stranger to the CIA. Bechtel Sr. had been a charter member of the CIA conduit Asia Foundation from its inception as Allen Dulles' brainchild. Former CIA Director Richard Helms himself joined Bechtel, as an "international consultant" in 1978. Said a former executive, Bechtel was:

loaded with the CIA ... The agency didn't have to ask them to place its agents ... Bechtel was delighted to take them on and give them whatever assistance they needed.

Bechtel Sr.'s "oldest and closest friend in the oil industry," Gus Long, had a problem. Freeport's project was far more difficult than they had foreseen, and they needed outside help. The mountainous path to the "copper mountain" made extraction nearly impossible. Freeport hired Bechtel to help them construct the appropriate infrastructure to turn their dreams into reality.

Bechtel came with extras. Freeport needed additional financing for their costly Indonesian project. Bechtel Sr. had gotten himself appointed to the advisory committee of the Export-Import (Exim) bank after a long period of cozying up to Exim bank president Henry Kearns. Freeport was not happy with the lack of progress and costs of Bechtel's operation. Forbes Wilson threatened to drop them from the project. Bechtel Sr. jumped in, saying he would make the project Bechtel's top priority. He also guaranteed them $20 million in loans from the Exim bank. When the Exim bank's engineer didn't think that Freeport's project seemed commercially viable and wouldn't approve their loan, Bechtel Sr. called Kearns, and the loan went through over the objections of the bank's engineer. Three years later, Kearns would resign from the bank when it revealed the bank had made generous loans to several projects in which Kearns was personally invested. Although Senator Proxmire called it "the worst conflict of interest" he had ever seen in seventeen years in the Senate, the Justice Department declined to prosecute. Said Proxmire:

It will appear to millions of American citizens that there is a double standard in the law, one for the ordinary citizen and quite another for those who hold high positions in government and make thousands of dollars in personal profit as a result of official actions.

Bechtel denies allegations from former employees that it spread over $3 million in cash around Indonesia in the early '70s.

Unhappily Ever After The tragedy of the Kennedy assassination lies in the legacy left in the wake of his absence. Without his support, Indonesia's baby steps toward a real, economic independence were shattered. Sukarno, hardly a saint and with plenty of problems, nonetheless was trying to assure that business deals with foreigners left some benefit for the Indonesians. Suharto, in dire contrast, allowed foreigners to rape and pillage Indonesia for private gain, at the price of lives and the precious, irreplaceable resources of the Indonesians. Cindy Adams wrote a book about her experiences with Sukarno, called My Friend the Dictator. If Sukarno was a dictator, what term exists for Suharto?

Freeport's Grasberg mine in Indonesia is one of the largest copper and gold reserves in the world. But the American based company owns 82% of the venture, while the Indonesian government and a privately held concern in Indonesia split the remaining percent.

How much influence does Freeport carry in Indonesia? Can they really say they have Indonesia's best interests at heart?

Kissinger and East Timor In 1975, Freeport's mine was well into production and highly profitable. Future Freeport Director and lobbyist Henry Kissinger and President and ex-Warren Commission member Gerald Ford flew out of Jakarta having given the Indonesian Government under Suharto what State Department officials later described as "the big wink." Suharto used the Indonesian military to take over the Portuguese territory of East Timor, followed by a mass slaughter that rivaled the 1965 bloodbath.

Says a former CIA operations officer who was stationed there at the time, C. Philip Liechty:

Suharto was given the green light [by the U.S.] to do what he did. There was discussion in the embassy and in traffic with the State Department about the problems that would be created for us if the public and Congress became aware of the level and type of military assistance that was going to Indonesia at that time. ... Without continued heavy U.S. logistical military support the Indonesians might not have been able to pull if off.

In 1980, Freeport merged with McMoRan-an oil exploration and development company headed by James "Jim Bob" Moffett. The two become one, and Moffett (the "Mo" in McMoRan) eventually became President of Freeport McMoRan.

Friends in High Places In 1995, Freeport McMoRan managed to spin off it's Freeport McMoRan Copper & Gold Inc. subsidiary into a separate entity. The Overseas Private Investment Corporation (OPIC) wrote Freeport McMoRan Copper and Gold that they planned to cancel their investment insurance based on their poor environmental record at their Irian project, stating Freeport has "posed an unreasonable or major environmental, health, or safety hazard in Irian Jaya."

Freeport didn't sit still over this cancellation. Kissinger executed a major lobbying effort (for which he is paid $400,000 a year), meeting with officials at the State Department and working the halls of Capitol Hill. Sources close to the matter, according to Robert Bryce in a recent issue of the Texas Observer, say Freeport hired former CIA director James Woolsey in the fight against OPIC.

Freeport, now headquartered in New Orleans, manages to keep friends in high places. In 1993, the head of the pro-Suharto congressional lobby was the Senator from Louisiana, Bennett Johnson. Representative Robert Livingston, of Louisiana, invested in Freeport Copper and Gold while the House debated and voted on H.R. 322-the Mineral Exploration and Development Act. And when Jeffery Shafer, one of the directors of OPIC, recently was nominated for an appointment to Undersecretary of National Affairs, it was another Louisiana pol, this time Senator John Breaux, who voted to block the appointment until Shafer provided an explanation of OPIC's cancellation of Freeport's insurance. Jim Bob Moffett, head of Freeport McMoRan, is listed in Mother Jones' online "MoJo Wire Coin-Op Congress" survey of the top 400 people who gave the most money in campaign contributions.

Freeport's actions abroad are not the only one's worth tracking. In Louisiana itself, Freeport and three other companies (two of which Freeport later acquired) petitioned for a special exemption to the Clean Water Act in order to legally dump 25 billion pounds of toxic waste into the Mississippi river. Citizens protested, and Freeport's petition was denied. Freeport then lobbied for the weakening of Clean Water Act restrictions.

The citizens of Austin, Texas, have fought to block a Freeport plan for a real estate development that will foul Barton Springs, a popular outdoor water park there.

According to a recent article in The Nation (July 31/August 7, 1995), Freeport is part of the National Wetlands Coalition, a group which wrote much of the language of a bill designed to eliminate E.P.A. oversight of wetlands areas, freeing them for exploitation. The same coalition has also lobbied to weaken the Endangered Species Act. The Nation revealed that Freeport's political action committee since 1983 has paid members of congress over $730,000.

Scandal at UT Freeport's record caused an uproar at the University of Texas at Austin recently. The university's geology department, which has done research under contract for Freeport, was recently given $2 million dollars by Jim Bob Moffett for a new building. The school's Chancellor, William Cunningham, wanted to name the building after his friend and co-worker (Cunningham is also a Freeport Director) Moffett. Many on campus protested this development. Anthropology professor Stephen Feld resigned his position with the university over this issue, saying UT was "no longer a morally acceptable place of employment." The protests about Cunningham's conflict of interest-serving UT and Freeport-led to Cunningham's resignation last December. He resigned a day after Freeport threatened to sue three professors at the University who had been loudest in protest.

Poised on the Brink While moral victories are lauded in Texas, the real terror continues at Freeport's plant in Indonesia.

In March of 1996, just as our last issue went to press, riots broke out at the Freeport plant in Irian Jaya (the current name for West Irian). Thousands were marching in the streets around the Freeport plant, where the military had as recently as December held and tortured in Freeport mining containers the people who lived and protested in that region. The protests are deeply rooted in the desire for the independence of the Papuans, the Amungme, and the many native inhabitants of Irian Jaya who were never Dutch, and never really Indonesian.

As we go to print, Indonesian sources report that the military has taken over the numerous Freeport Security stations around the mine. "Military Exercises" are intimidating the people who in March rioted at Freeport, causing the plant to lose two days of work and millions of dollars. Although no curfew has been called, people report a fear of being out at night.

The native Amungme tribes, the Papuans, and others are still hoping to retain independence from what they see as only a new form of colonialism: subservience to Freeport's interests. According to a New York Times article (4/4/96), Freeport is the largest single investor in Indonesia.

With Kennedy's support, Indonesia had a chance for real economic independence. The peoples of Irian were promised a real vote for self-government. But when Kennedy was killed, a military dictatorship was installed and paid off so that the interests of businesses like Freeport have been given higher priority than any demands of the natives whose resources are still being pillaged.

Sometimes, what we don't understand about today's news is what we don't know about the Kennedy assassination.

Source:  http://www.realhistoryarchives.com/collections/hidden/freeport-indonesia.htm

 

PAPUA Gerbang Emas Timur

Posted on November 12, 2011 at 4:30 PM Comments comments (6)

PAPUA Gerbang Emas Timur

Kita sedang memasuki satu era dimana seluruh nubuat dalam Alkitab harus digenapi menjelang kedatangan Yesus kedua kali sebagai raja, termasuk juga pencurahan Roh Kudus secara besar-besaran yang ditandai dengan penyingkapan / pewahyuan-pewahyuan lewat mimpi, penglihatan dan nubuat atas semua lapisan umat TUHAN.

"Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh~Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh~Ku pada hari-hari itu."(Yoel 2:28-29)

Nubuat-nubuat yang dahulu sekarang sudah menjadi kenyataan, hal-hal yang baru hendak Kuberitahukan. Sebelum hal-hal itu muncul, Aku mengabarkannya kepadamu.(Yesaya 42:9)

 

Master Plan ALLAH atas Bangsa-Bangsa dalam tahap Finishing

Pembagian 12 Wilayah Bumi Berdasarkan 12 Suku Israel

Ketika Sang Mahatinggi membagi-bagikan milik pusaka kepada bangsa-bangsa, ketika Ia memisah-misah anak-anak manusia, maka Ia menetapkan wilayah bangsa-bangsa menurut bilangan anak-anak Israel. Tetapi bagian TUHAN ialah umat~Nya, Yakub ialah milik yang ditetapkan bagi~Nya.(Ulangan 32:8-9)

 

BANGSA-BANGSA DIKELOMPOKKAN DALAM 4 BAGIAN MENURUT PENJURU MATA ANGIN 

Dan temboknya besar lagi tinggi dan pintu gerbangnya dua belas buah; dan di atas pintu-pintu gerbang itu ada dua belas malaikat dan di atasnya tertulis nama kedua belas suku Israel. Di sebelah timur terdapat tiga pintu gerbang dan di sebelah utara tiga pintu gerbang dan di sebelah selatan tiga pintu gerbang dan di sebelah barat tiga pintu gerbang.(Wahyu 21:12-13)

 

TENTANG GERBANG TIMUR IBUKOTA

Kemudian ia membawa aku kembali ke pintu gerbang luar dari tempat kudus, yang menghadap ke timur; gerbang ini tertutup. Lalu TUHAN berfirman kepadaku: "Pintu gerbang ini harus tetap tertutup, jangan dibuka dan jangan seorangpun masuk dari situ, sebab TUHAN, Allah Israel, sudah masuk melaluinya; karena itu gerbang itu harus tetap tertutup.

(Yehezkiel 44:1-2)

Secara fisik gerbang ini memang masih ada dan diberi nama Pintu Gerbang Emas (Golden Gate). Ketika Yehezkiel mendapat penglihatan ini, pintu gerbang tersebut masih dalam keadaan terbuka dan penutupannya baru terjadi pada abad ke 5 SM oleh jendral Turki bernama Ottoman yang menduduki Yerusalem. Ia menutupnya mati dengan semen setelah membaca kitab Yehezkiel bahwa akan ada seorang raja yang akan masuk melaluinya dan memerintah di Yerusalem.

KEDATANGAN SANG RAJA DALAM PENGLIHATAN NABI YESAYA

IA akan muncul dari arah Timur dengan menaklukan para penguasa bumi. KKR terakhir bergerak dari Timur berakhir di –Yerusalem.

Dengarkanlah Aku dengan berdiam diri, hai pulau-pulau; hendaklah bangsa-bangsa mendapat kekuatan baru! Biarlah mereka datang mendekat, kemudian berbicara; baiklah kita tampil bersama-sama untuk berperkara! Siapakah yang menggerakkan dia dari timur, menggerakkan dia yang mendapat kemenangan di setiap langkahnya, yang menaklukkan bangsa-bangsa ke depannya dan menurunkan raja-raja? Pedangnya membuat mereka seperti debu dan panahnya membuat mereka seperti jerami yang tertiup.(Yesaya 41:1-2)

 

PENEGASAN YESUS SANG RAJA YANG AKAN DATANG ITU

Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia.(Matius 24:27)

 

Bangsa-Bangsa di Wilayah Timur

Di antara bangsa-bangsa wilayah Timur yang akan IA lawat, ada satu bangsa yang dilihat Nabi Yesaya secara khusus dalam Rencana Besar ALLAH yang akan menjadi bencana bagi kerajaan Iblis yang sampai sekarang ini menguasai bumi. Itulah sebabnya Iblis sedang berusaha keras untuk mempertahankan dan menguasainya agar tidak jatuh ketangan Sang Raja yang akan datang itu.

Bangsa manakah yang dimaksudkan itu?

 

Perhatikan penglihatan Nabi Yesaya berikut ini:

(1) PERTAMA

 "Sebab itu permuliakanlah TUHAN di negeri-negeri timur, nama TUHAN, Allah Israel, di tanah-tanah pesisir laut!" Dari ujung bumi kami dengar nyanyian pujian: "Hormat bagi Yang Mahaadil!" Tetapi aku berkata: "Kurus merana aku, kurus merana aku. Celakalah aku! Sebab para penggarong menggarong, ya, terus-menerus mereka melakukan penggarongannya!"  (Yesaya 24:15-16)

Pertimbangkanlah Fakta-Fakta Berikut ini:

  • Indonesia adalah negeri sebelah Timur Israel yang terdiri dari pesisir.
  • Pemulihan Pujian Penyembahan bagi TUHAN bertumbuh pesat tapi dalam waktu bersamaan juga kejahatannya pun pesat (Lalang dan Gandum Tumbuh Bersama-sama).
  • Papua terletak paling Timur dari Indonesia yang mayoritas penduduk pribuminya percaya & menyembah ALLAH dalam “YESUS”Kekayaan Papua terus digarong, masyarakat Papua pada umumnya hidup menderita, miskin, dibunuh, diperlakukan tidak adil diatas tanahnya sendiri.

(2) KEDUA

Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN dan pujilah Dia dari ujung bumi! Baiklah laut bergemuruh serta segala isinya dan pulau-pulau dengan segala penduduknya. Baiklah padang gurun menyaringkan suara dengan kota-kotanya dan dengan desa-desa yang didiami Kedar! Baiklah bersorak-sorai penduduk Bukit Batu, baiklah mereka berseru-seru dari puncak gunung-gunung! (Yesaya 42:10-11)

Siapakah KEDAR itu?

Mereka adalah keturunan dari Ismael. (Kejadian 25:13; 1 Tawarikh 1:28-31)

Pertimbangkanlah Fakta-Fakta Berikut ini:

  • Israel dan bangsa-bangsa sekitarnya bukan negeri kepulauan.
  • Ia menunjuk pada bangsa yang secara geografis sangat jauh dari Yerusalem yang terdiri dari pulau-pulau.Indonesia adalah negeri yang letaknya jauh dari Yerusalem Terdiri dari ±17.000 pulau.
  • Di Asia Pasifik banyak Negara kepulauan tapi Indonesialah negeri Kedar terbesar di dunia.
  • Kaum Kedar menguasai kota, desa, pesisir maupun pegunungannya (di Papua semua daerah diduduki dan dikuasai oleh Kedar baik pekerjaan, ekonomi daerah-daerah dibuka untuk kepentingan transmigrasi, Bugis-Buton-Makasar menguasai pesisir, di Wamena dibangun Islamik Center).

Dari fakta-fakta diatas tidak perlu ditafsirkan lagi Nabi Yesaya telah membaca blueprint ALLAH untuk Indonesia jauh sebelum 17 Agustus 1945. Bahwa Yesus Sang Raja akan melawat Indonesia secara khusus. Suatu peristiwa Kebangunan Rohani Besar yang akan berdampak kepada dunia.Tanggal 5 Mei 2003 Cindy Jacob mendapatkan pernyataan TUHAN yang mengkonfirmasi hal-hal berikut ini ketika bernubuat di Jakarta.

 

Papua sebagai Pusaka Kesayangan ALLAH Punya Peran Penting

Secara Geografis:

  • Diletakkan diujung paling Timur Indonesia.
  • Menjadi Pintu Gerbang masuknya Raja Kemuliaan untuk mentransformasi negeri “Kedar” terbesar (Indonesia).

Secara factual:

  • Diberi TUHAN kekayaan alam yang melimpah terutama Emas.
  • Suku Kedar menguasai di kota-kota, pesisir-pesisir, desa-desa, dalam segala bidang kehidupan.
  • Emas dan segala kekayaannya terus digarong, orang Papua kurus, merana, dibunuh, dan terus menjerit dihadapan TUHAN (Yesaya 24: 16).
  • Pintu Gerbang ini masih tertutup, tapi Yesus akan segera membukanya!
  • KKR Paul Younggi Cho tahun 1996 selesai maka mulai terjadi tranformasi dengan munculnya emas di kota-kota diseluruh Papua. Suku Kedar dari bagian Barat & Tengah Indonesia berduyun duyun datang untuk mendulang emas, yang sebenarnya harus dinikmati oleh Papua, akhirnya diambil kembali oleh TUHAN dan sampai saat ini emas sulit didapatkan.

Alasan dari sudut pandang Profetis

  • Dengan Banyaknya Emas, Papua benar-benar adalah Pintu Gerbang Emas bagi Indonesia.
  • Berbagai upaya “Penghijauan“ membuktikan bahwa Iblis sedang berusaha merebut Pintu Gerbang tersebut dari tangan umat TUHAN, karena barangsiapa menguasai gerbang akan menguasai kota.
  • TUHAN sedang membangkitkan gereja~Nya di Tanah Papua agar berdiri sebagai Penjaga Pintu Gerbang~Nya, ini dapat dilihat dari banyaknya Hamba TUHAN yang Ia kirim untuk merestorasi gereja~Nya di Tanah Papua.Syarat Menjadi Penjaga Gerbang

PERHATIKAN TANDA GERAKAN~NYA.

Dan terjadilah pada hari ketiga, pada waktu terbit fajar, ada guruh dan kilat dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras, sehingga gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan. Lalu Musa membawa bangsa itu keluar dari perkemahan untuk menjumpai Allah dan berdirilah mereka pada kaki gunung. Gunung Sinai ditutupi seluruhnya dengan asap, karena TUHAN turun ke atasnya dalam api; asapnya membubung seperti asap dari dapur, dan seluruh gunung itu gemetar sangat. Bunyi sangkakala kian lama kian keras. Berbicaralah Musa, lalu Allah menjawabnya dalam guruh. Lalu turunlah TUHAN ke atas gunung Sinai, ke atas puncak gunung itu, maka TUHAN memanggil Musa ke puncak gunung itu, dan naiklah Musa ke atas.

(Keluaran 19:16-20)

  • Reaksi umat TUHAN…… Takut!
  • Reaksi Hamba TUHAN… Musa mendaki puncak gunung Sinai, mendekat kepada Sumber Badai itu.

PERHATIKAN “RESPONSE-MU”

Maka bangunlah ia, lalu makan dan minum, dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. Di sana masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka firman TUHAN datang kepadanya, demikian: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?" Jawabnya: "Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian~Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah~Mu dan membunuh nabi-nabi~Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku." Lalu firman~Nya: "Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!" Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu. Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa. Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?" Jawabnya: "Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian~Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah~Mu dan membunuh nabi-nabi~Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku." Firman TUHAN kepadanya: "Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram. Juga Yehu, cucu Nimsi, haruslah kauurapi menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola, harus kauurapi menjadi nabi menggantikan engkau. Maka siapa yang terluput dari pedang Hazael akan dibunuh oleh Yehu; dan siapa yang terluput dari pedang Yehu akan dibunuh oleh Elisa.

(1 Raja Raja 19:8-17)

 

Guruh, Kilat, Gempa mendahului kunjungan Allah untuk menyelesaikan persoalan Elia dan Isabel.

  • ELIA bersembunyi di “GUA”.
  • Bersembunyi di “Gua” masa lalu (Ayat: 8-10).
  • Api dan gempa akan memaksa ia keluar GUA. Lalu berdiri di depan ALLAH. (Ayat: 11-13).
  • Allah kita Omni Potent, Omni Science, Omni Present, IA tidak butuh laporan kita (Ayat: 14).
  • TUHAN mau kita menjadi Hamba TUHAN masa depan (Profetik) bukan hamba TUHAN masa lalu. (Ayat: 15-17).

Bagaimana reaksi kita ketika “Isabel (Kedar)” menginginkan nyawa kita? Lari, sembunyi di “gua-gua” pengalaman masa lalu, denominasi, doktrin atau ingin “pensiun” dll. Haruskah menunggu sampai “Badai, api dan gempa memaksa kita keluar? Ataukah hari ini kita mau berdiri dihadapan~Nya menerima tugas masa depan?

 

SAATNYA UNTUK BERKOALISI BUKAN KOMPETISI

Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: "Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai." Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk. Dengan kepak~Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap~Nya engkau akan berlindung, kesetiaan~Nya ialah perisai dan pagar tembok. Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang, terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang. Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu. Engkau hanya menontonnya dengan matamu sendiri dan melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik. Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu, malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu; sebab malaikat-malaikat~Nya akan diperintahkan~Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu. Singa dan ular tedung akan kaulangkahi, engkau akan menginjak anak singa dan ular naga. "Sungguh, hatinya melekat kepada~Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama~Ku. Bila ia berseru kepada~Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya. Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada~Ku."

(Mazmur 91:1-16)

 

Petir, Api, Gempa Adalah

  • Cara Allah memaksa gereja~Nya untuk bersatu (unity) dibawah kepak sayap~Nya
  • Cara Allah memaksa umat~Nya mendekat dan intim dengan DIA.
  • Cara Allah mengajar umat~Nya mengenal Dia secara utuh.

INGAT!

Tragedi 1998-2000, gereja-gereja dibakar, pemerkosaan, pembunuhan, semua itu diijinkan TUHAN agar gereja-gereja bersatu untuk mempersiapkan jemaatnya menyambut kedatangan TUHAN.

Umat TUHAN di Papua! Marilah kita bersatu hati, berdoa agar tidak terjadi tragedy seperti di Jakarta, Sumatra, Sulawesi, Ambon, Palu.

 

“Kilat “ itu sudah mulai bergerak di Timur.

Transformasi sedang berlangsung di negara-negara Pasifik (Fiji, Samoa,dsb) tapi didahului oleh banjir darah, lewat kudeta militer dan pertikaian antar etnis, lalu gereja meresponi dengan meruntuhkan tembok-tembok penghalang unity.

PAPUA apakah jawabmu?

 

INGATLAH!

Doa Sulung Tanah Papua ”Dengan Nama TUHAN kami menginjak Tanah ini” (Ottow & Gissler tahun 1855).

Nama TUHAN Allah telah disebut di atas Tanah Papua, mari umat TUHAN panggilah TUHAN untuk memulihkan negeri ini. Bangsa Papua tidak memiliki senjata, kekuatan, uang. Janganlah takut, Papua memiliki TUHAN & Doa Sulung.

Papua! Berdoa & Berpuasa! Jagalah Pintu Gerbang Emas karena dari situlah Raja Kemuliaan akan masuk.

 

Papua, Mari Responi

 

 

Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapan~Ku, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya.

(Yehezkiel 22:30)

 

dan umat~Ku, yang atasnya nama~Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah~Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.

(2 Tawarikh 7:14)

 

Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada~Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.

(Yohanes 17:22-23)

 

RAKYAT PAPUA “HIDUP MISKIN” 

TRANSFORMASI MEMANG SELALU TUHAN MULAI DARI MEREKA YANG MISKIN:

1. Janda di Sarfat. Sebelum Transformasi Israel

2. Empat orang kusta sebelum Transformasi Samaria

3. Kampung Nelayan di Galilea sebelum Yerusalem, dll.

 

Orang Papua perlu menemukan kembali gambar dirinya dihadapan Allah agar terlepas dari rasa rendah diri dan siap berdiri sebagai Penjaga Gerbang Emas (Golden Gate). Dari sudut pandang Anatomy orang Papua ibarat “Gadis Sunem” jantung hati “Sang Raja” yang dikasihi melebihi gadis-gadis lainnya. Seperti digambarkan Salomo dalam Kidung Agung. Perhatikan potret”gadis sunem” yang hitam dan kriting itu lalu bandingkan dengan perawakan orang Papua.

1. Gadis desa

2. Kidung Agung.6:4, wanita kekar dan perkasa

3. Kidung Agung 4:2 Bergigi susun/kembar

4. Kidung Agung 4:3; 6:7 , Jerawatan

5. Kidung Agung 6:5a, Salomo jujur mengaku jadi bingung


TUHAN Sedang Menanti Jawaban Orang Papua

Yehezkiel 22: 30-31

Aku mencari ditengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu dihadapanKu, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya. Maka Aku mencurahkan geramKu atas mereka dan membinasakan mereka dengan api kemurkaanKu; kelakuan mereka Kutimpakan atas kepala mereka, demikianlah Firman Allah.

Papua! Berjalanlan dalam jalan Allah, jadilan Penjaga Pintu Gerbang Emas…….! Jangan jatuh ketangan Delilah akhir jaman (Uang, Jabatan, Perempuan (Kekayaan)).

 

Matius 24:27

Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya kebarat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia.

 

Dengan kekayaan emas, minyak, dan kekayaan alam lainnya di Papua semua itu, Allah sediakan hanya untuk dipergunakan bagi pekerjaan~Nya yang akan terjadi seperti kilat yang memancar dari Timur dan berakhir di Yerusalem.

 Halleluyah! TUHAN Yesus Anak Allah itu datang kembali!


 

SELAMATKAN PAPUA, SELAMATKAN PINTU TIMUR, 

SELAMATKAN PINTU GERBANG EMAS, 

BAGI MASUKNYA RAJA KEMULIAAN YESUS KRISTUS!


________________

Sumber: 

WORLD WIDE WATCH - Surrounding The Throne Of The King From The Ends of The Earth

Vision by Tom Hess, Prayer’s Tower – Jerusalem, Written by Josh Anadorey, Translated by Pdt. Hanny Andreas, GBI Batam, Published by Apediam Ihsot ©2004

 

origin site: http://www.geocities.com/b.orientalis/papuagerbangemas.html

SIAPA PENCIPTA BENDERA & LAMBANG NEGARA PAPUA BARAT ?

Posted on October 12, 2011 at 5:55 PM Comments comments (13)

 

SIAPA PENCIPTA BENDERA & LAMBANG NEGARA PAPUA BARAT ?

Ditulis oleh: John Anari

 


Lambang Negara


Bendera Negara


GENERASI SEKARANG TIDAK BOLEH TERTIPU OLEH SEJARAH TENTANG LAMBANG NEGARA PAPUA BARAT DAN BENDERA NASIONAL PAPUA BARAT.

LAMBANG NEGARA YG ASLI SERTA BENDERA NEGARA YG ASLI SPERTI TERLIHAT PADA BEKAS KANTOR RESIDENT NEDERLAND NIEUW GUINEA DI MANOKWARI DALAM FOTO DI BAWAH INI.

PULAU INI DIKENAL SEBAGAI PULAU BURUNG SURGA (PARADISE BIRD) MAKA OTOMATIS LAMBANG NEGARA YG DITERIMA DALAM SIDANG PARLEMENT PAPUA BARAT (NEDERLAND NIEUW GUINEA RAAD) SEPERTI TERPAMPANG DALAM FOTO DI BAWAH INI.

LAMBANG BURUNG MAMBRUK ITU DIPROKLAMASIKAN DI VICTORIA TANGGAL 1 JULI 1971. LAMBANG BURUNG MAMBRUK DIUSULKAN OLEH NICOLAS JOUWE DALAM KONGRES I TETAPI TIDAK DITERIMA OLEH ANGGOTA KOMISI NASIONAL PAPUA BARAT.

BENDERA NEGARA PUN DIAMBIL OLEH MARKUS KAISIEPO DALAM SEJARAH KORERI DICIPLAK OLEH NICOLAS JOUWE UTK DIPASANG DALAM LAMBANG BURUNG MAMBRUK. AKIBATNYA NICOLAS JOUWE TIDAK HADIR DALAM ACARA PENAIKAN BENDERA 1 DESEMBER 1961 DI HOLLANDIA KARENA TELAH MELARIKAN DIRI KE BELANDA PADA BULAN NOVEMBER 1961.

KUM MESER/BINTANG PAGI, BENDERA INI SUDAH DIPAKAI WAKTU KORERI BERPERANG MELAWAN JEPANG. SEJARAH BENDERA PAPUA BARAT JUGA DITULIS OLEH DR. F. C. KAMMA DALAM BUKUNYA YANG BERJUDUL DIT WONDERLIJK WERK JILID 3 SERTA DITULIS JUGA OLEH NONI SHARP DARI AUSTRALIA DALAM BUKUNYA BERJUDUL THE MORNING STAR IN WEST PAPUA.

SEJARAH PERLU DILURUSKAN DAN HANYA ORANG PAPUA SENDIRI YG BISA MELURUSKAN SEJARAHNYA AGAR ANAK CUCUNYA BISA MENGENAL AKAN JATI DIRINYA.


Lingkaran Merah pada Lambang dan Bendera Nasional Papua Barat di Kantor Resident Nederland Nieuw Guinea di Manokwari.


The Creator of National Flag of West Papua and Coat of Arm of West Papua RepublicCopyright@by : Ben Kaisiepo & John Anari


NATIONAL FLAG OF WEST PAPUA REPUBLICCopyright@by : Ben Kaisiepo & John Anari


NATIONAL FLAG OF WEST PAPUA REPUBLICCopyright@by : Ben Kaisiepo & John Anari


NATIONAL ANTHEM OF WEST PAPUA REPUBLIC AND NATIONAL DAY OF 1 DECEMBER 1961Copyright@by : Ben Kaisiepo & John Anari


NATIONAL ANTHEM OF WEST PAPUA REPUBLIC AND NATIONAL DAY OF 1 DECEMBER 1961.COAT OF ARM OF REPUBLIC OF WEST PAPUACopyright@by : Ben Kaisiepo & John Anari

 

TERBENTUKNYA PULAU PAPUA

Posted on February 13, 2011 at 3:04 PM Comments comments (7)

TERBENTUKNYA PULAU PAPUA (GEOLOGY PAPUA)


Ditulis Oleh: John Anari 


Pada mulanya pulau Papua merupakan dasar lautan Pasifik yang paling dalam dan juga merupakan lempeng Australia (lempeng Sahul) yang berada di bawah dasar lautan Pasifik tetapi akibat adanya pertemuan/tumbukan lempeng (tektonik lempeng) antara lempeng benua Australia (Lempeng Sahul) dan lempeng Samudera Pasifik sehingga terangkatnya lempeng Australia menjadi pulau di bagian Utara Australia. Pertemua/tubukkan lempeng ini sehingga menyebabkan terbentuknya gugusan pegunungan Tengah dan gugusan pegunungan di wilayah Kepala Burung. (Hamilton, 1979; Dow et al., 1988).

Papua merupakan lempeng Australia sehingga dapat ditemukan berbagai jenis bebatuan yang mirip antara Australia dan Papua.

 

Proses pengangkatan pulau Papua dari Dasar lautan Pasifik sehingga kini telah ditemukan berbagai kerang (bia) dan pasir laut di berbagai wilayah pegunungan Tengah dan Pegunungan Kepala Burung. Akibat pengangkatan ini akhirnya pulau Papua mulai terhubung dengan benua Australia sehingga mulai terjadi migrasi Hewan dan Manusia dari daratan Australia ke wilayah Papua sebelum terjadinya pencairan es di kutub akibat adanya pemanasan global.

Proses geologi Papua ini baru terjadi sekitar 60an jutaan tahun silam sehingga masih bisa ditemukan kerang di wilayah daratan Papua.

Menurut istilah geologi bahwa proses pertemuan lempeng disebut Convergent dan proses pemisahan lempeng disebut Divergent. Sehingga Papua merupakan proses Konvergen antara lempeng Samudera dan lempeng Benua seperti pada gambar di bawah ini.


 

Gambar. 1. Proses Konvergen antara lempeng Samudera Pasifik dan Benua Australia

 

Sumber: Download dari internet 



Gambar. 2. New Guinea dan Australia Plate

Sumber: Universitas Monash (http://sahultime.monash.edu.au/explore.html


Berdasarkan proses geologi tersebut sehingga 3 (tiga) ahli Geologi Wallace, Weber dan Lydekker berusaha menarik garis batas antara lempeng Sahul dan lempeng Sunda seperti terlihat pada gambar di bawah ini:

 


Gambar. 3. Pembatasan Lempeng Sahul dan Sunda oleh Lydekker

Sumber: Lydekker Line. Wikipedia English 


Dari ketiga pendapat ahli geologi tersebut, hanya Lydekker yang paling tepat membatasi perbatasan antara lempeng Sunda dan Sahul karena telah dibuktikan dengan kemiripan manusia, hewan, dan bebatuan yang ada di Papua mirip dengan Australia sedangkan wilayah Indonesia sangat berbeda dengan Papua.

Sehingga secara otomatis dan sudah sepantasnya pulau ini harus dinamai  Convergentland Island  (Pulau Tanah Konvergen).

 

Papua diciptakan oleh Sang Pencipta secara khusus dan tergolong masih mudah sehingga proses tektonik pun masih terjadi yang akan menyebabkan terjadinya gempa tektonik hingga saat ini.

 


BANGSA MELANESIA DI PULAU CONVERGENTLAND

Posted on November 24, 2010 at 4:24 AM Comments comments (24)

BANGSA MELANESIA DI PULAU CONVERGENTLAND

Ditulis oleh: John Anari, S. Komp



BANGSA MELANESIA YANG MENDIAMI TANAH KONVERGEN (WEST PAPUA & PAPUA NEW GUINEA) SAAT INI TELAH KEHILANGAN JATIDIRINYA  AKIBAT PEMBERIAN NAMA OLEH BANGSA-BANGSA ASING YANG DATANG MASUK KEWILAYAH INI ANTARA LAIN BANGSA MELAYU, AUSTRONESIA, CHINA, SPANYOL, PORTUGIS, GERMAN, BELANDA, INGGRIS, DAN JEPANG.


PULAU INI TIDAK PANTAS DIBERI NAMA PAPUA DAN NEW GUINEA KARENA NAMA ITU ADALAH NAMA YANG DIBERIKAN OLEH BANGSA MELAYU YANG MASUK LEBIH AWAL SEBELUM KEDATANGAN BANGSA MONGOLOID DARI CHINA DAN BANGSA EROPA.

NAMA PAPUA DIAMBIL DARI BAHASA MELAYU KUNO YAITU PAPUWA YANG BERARTI BUDAK/TIDAK BERADAB SEDANGKAN NAMA NEW GUINEA ADALAH NAMA YANG DIAMBIL OLEH BANGSA SPANYOL DARI NAMA GUINEA DI AFRIKA DENGAN ALASAN KEMIRIPAN MANUSIANYA.


TETAPI PULAU INI SUDAH SEPANTASNYA DAN SEHARUSNYA DIRUBAH MENJADI TANAH KONVERGEN (Convergentland) YANG BERARTI TANAH YANG TERBENTUK KARENA PERTEMUAN LEMPENG AKIBAT PERGERAKKAN TEKTONIK LEMPENG DI BAWAH PERUT BUMI.


NAMA INI DIAMBIL BERDASARKAN PROSES TERJADINYA PULAU INI BEBERAPA PULUH JUTA TAHUN SILAM BERDASARKAN SKALA GEOLOGI SEHINGGA UMUR PULAU INI DIPERKIRAKAN BARU SEKITAR 60 JUTAAN TAHUN. HAL INITELAH DIBUKTIKAN MELALUI PENEMUANG KERANG LAUT DAN PASIR LAUT DI DAERAH WAMENA, KEBAR, MANOKWARI, SORONG, BIAK, DLL.

PRSOSES TERJADINYA PULAU INI BERASAL DARI PERTEMUAN LEMPENG BENUA AUSTRALIA DAN LEMPENG SAMUDERA PASIFIK SEHINGGA MEMBENTUK GUGUSAN PEGUNUNGAN DI SEPANJANG WILAYAH SORONG DI PAPUA BARAT HINGGA SAMARI DI PAPUA NEW GUINEA.

 


 AKIBAT PERTEMUAN LEMPENG TERSEBUT,  MAKA TERJADILAH GUGUSAN PEGUNUNGAN DI WILAYAH KEPALA BURUNG, PEGUNUNGAN TENGAH HINGGA KE ARA TIMUR DI PAPUA NEW GUINEA. DALAM PROSES GEOLOGI, PERISTIWA PERTEMUAN/TUMBUKKAN LEMPENG DISEBUT KONVERGEN, MAKA TANAH INI HARUS DISEBUT TANAH KONVERGENT ATAU CONVERGENTLAND.

SEDANGKAN LEMPENG YANG SALING MEMISAH DISEBUT DIVERGENT.


 

Gambar. 1. Convergent Plate Techtonic

Sumber:  http://www.geology.sdsu.edu/how_volcanoes_work/Images/Diagrams/tect_usgs.gif


DENGAN ADANYA PERTEMUAN LEMPENG INI SEHINGGA MENGHUBUNGKAN BENUA AUSTRALIA, MAKA TERJADILAH MIGRASI MANUSIA DAN HEWAN DARI ARAH  AUSTRALIA KE UTARA PULAU INI SEPERTI TERLIHAT PADA GAMBAR GEOLOGINYA DI BAWAH INI SEBELUM TERJADINYA PENCAIRAN ES KETIKA NAIKNYA SUHU BUMI YANG MENGAKIBATKAN TERPUTUSNYA DARI DARATAN AUSTRALIA DAN MEMBENTUK PULAU TERSENDIRI.


Gambar. 2. NEW GUINEA BEFORE SEPARATE FROMAUSTRALIA.

Capture and Editor by: John Anari

Sumber: Monash University, Australia


BERDASARKAN PROSES ITU, SEHINGGA AHLI GEOLOGI LYDEKKER MENARIK GARIS BATAS LEMPENG SUNDA DAN LEMPENG SAHULSEPERTI TERLIHAT PADA GAMBAR DI BAWAH INI:

 

Gambar. 3. Map showing Lydekker's line in relation to those of Wallace and Weber, as well as the probable extent of land at the time of the last glacial maximum, when the sea level was more than 110 m lower than today.

Sumber:  http://en.wikipedia.org/wiki/File:Map_of_Sunda_and_Sahul.png


PENARIKAN GARIS BATAS PAPARAN SUNDA DAN PAPARAN SAHUL MENURUT LYDEKKER YANG PALING TEPAT KARENA DAPAT DILIHAT CIRI-CIRI MANUSIA PAPUA DAN AUSTRALIA SANGAT MIRIP.


SEDANGKAN NAMA YANG COCOK UNTUK BANGSA YANG MENDIAMI PULAU KONVERGEN INI ADALAH BANGSA MELANESIA YANG BERASAL DARI BAHASA YUNANI KUNO YAITU MELAN DAN NESOS (MELAN =HITAM; NESOS=PULAU) MAKA MELANESIA BERARTI PULAU HITAM. HAL INI SAMA SEPERTI PEMBERIAN NAMA INDONESIA OLEH SARJANA HUKUM SKOTLANDIA DARI UNIVERSITAS EIDINBURG YANG BERDOMISILI DI SINGAPORE YANG MENGAMBIL KATA DARI DARI BAHASA YUNANI KUNO YAITU INDOS DAN NESOS (INDOS=INDIA; NESOS=PULAU) JADI INDONESIA BERARTI PULAU INDIA KARENA KETURUNANNYA BERASAL DARI INDIA DAN ARAB DITIMUR TENGAH SEHINGGA BEREDAR AGAMA ISLAM, BUDA, HINDU SERTA PENINGGALAN CANDI DAN BAHKAN MEMILIKI KEMIRIPAN MANUSIANYA.

 

 

Gambar. 4. Border Map of Melanesia Island

Sumber: http://asiapacific.anu.edu.au/people/_maps/Melanesia.jpg


Gambar. 5. Border Map of the island of Melanesia, Micronesia and Polynesia

Sumber: http://www.janeresture.com/melhome/map.jpg

 


 


 

ZAMAN PRASEJARAH PAPUA

Posted on July 10, 2010 at 11:35 AM Comments comments (47)

BAB III

ZAMAN  PRASEJARAH


 Ditulis Oleh: John Anari, S. Komp





Berdasarkan geologi, terjadinya bumi sampai sekarang dibagi ke dalam empat zaman. Zaman-zaman tersebut merupakan periodisasi atau pembabakan prasejarah yang terdiri dari:


A.   Arkhaikum

Zaman ini berlangsung kira-kira 2500 juta tahun, pada saat itu kulit bumi masih panas, sehingga tidak ada kehidupan.

 

B.    Paleozoikum

Paleozoikum atau sering pula disebut sebagai zaman primer atau zaman hidup tua berlangsung selama 340 juta tahun. Makhluk hidup yang muncul pada zaman iniseperti mikro organisme, ikan, ampibi, reptil dan binatang yang tidak bertulang punggung.

 

C.   Mesozoikum

Mesozoikum atau sering pula disebut sebagai zaman sekunder atau zaman hidup pertengahan berlangsung selama kira-kira 140 juta tahun, antara 251 hingga 65juta tahun yang lalu. Pada zaman pertengahan ini, reptil berkembang dan menyebar ke seluruh dunia sehingga pada zaman ini sering pula disebut sebagai zaman reptil.

 

D.   Neozoikum

Neozoikum atau zaman hidup pertengahan dibagi menjadi menjadi dua zaman, yaitu zaman Tersier dan zaman Kuartier. ZamanTersier berlangsung sekitar 60 juta tahun. Zaman ini ditandai dengan berkembangnya jenis binatang menyusui.

Sementara itu, Zaman Kuartier ditandai dengan munculnya manusia sehingga merupakan zaman terpenting. Zaman ini kemudian dibagi lagi menjadi dua zaman, yaitu zaman Pleitosen dan Holosin. Zaman Pleitosen (Dilluvium) berlangsung kira-kira 600.000 tahun yang ditandai dengan adanya manusia purba.

 

 

Gambar. 3.1. Manusia Purba

Sumber: http://fosil-manusia-purba.blogspot.com


Zaman pleistosen ditandai dengan meluasnya lapisan es di kedua kutub Bumi (zaman glacial) dan diseling dengan zaman ketika es kembali mencair (zaman interglacial). Keadaan ini silih berganti selama zaman pleistosin sampai empat kali. Di daerah tropika zaman glacial ini berupa zaman hujan (zaman pluvial) yang diseling dengan zaman kering (interpluvial).


Pada zaman glacial permukaan air laut telah menurun dengan drastis sehingga hanyak dasar laut yang kering menjadi daratan.Di Indonesia bagian barat dasar laut yang mengering itu disebut Dataran Sunda,sedangkan di Indonesia bagian timur disebut Dataran Sahul. Dataran Sunda telah menyebabkan kepulauan Indonesia bagian barat menjadi satu dengan Benua Asia,sedangkan Dataran Sahul telah pula menghubungkan kepulauan Indonesia bagian timur dengan Benua Australia. Itulah sebabnya fauna dan flora Indonesia barat mirip dengan fauna dan flora Asia dan sebaliknya fauna dan flora Indonesia timur mirip dengan Australia. Manusia yang hidup zaman pleistosin adalah spesies homo erectus, yang menjadi pendukung kebudayaan batu tua (Palaeolithicum).

Zaman pleistosin berakhir 10.000 tahun Sebelum Masehi kemudian diikuti oleh datangnya zaman Alluvium atau zaman Holosin yang masih berlangsung sampai sekarang. Dari zaman ini muncullah nenek moyang manusia sekarang, yaitu spesies homo sapiens atau makhluk cerdas.[1]

 

 

E.     Arkeologi

Arkeologi, berasal dari bahasa Yunani, archaeo yang berarti "kuno" dan logos, "ilmu".Nama alternatif arkeologi adalah ilmu sejarah kebudayaan material. Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan. Kajian sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis, dan interpretasi data berupa artefak (budaya bendawi, seperti kapak batu dan bangunan candi) dan ekofak (benda lingkungan,seperti batuan, rupa muka bumi, dan fosil) maupun fitur (artefaktual yang tidak dapat dilepaskan dari tempatnya (situs arkeologi).. Teknik penelitian yang khas adalah penggalian (ekskavasi) arkeologis, meskipun survei juga mendapatkan porsi yang cukup besar.

1.      Zaman Batu

Zaman Batu terjadi sebelum logam dikenal dan alat-alat kebudayaan terutama dibuat dari batu di samping kayu dan tulang. Zaman batu ini dapat dibagi lagi atas:

a.      Zaman batu tua (Paleolitikum)

Zaman batu tua (palaeolitikum), Disebut demikian sebab alat-alat batu buatan manusia masih dikerjakan secara kasar, tidak diasah atau dipolis. Apabila dilihat dari sudut mata pencariannya periode ini disebut masa berburu dan meramu makanan tingkat sederhana. Pendukung kebudayaan ini adalah Homo Erectus yang terdiri.

b.     Zaman batu tengah (mesolitikum)

Pada Zaman batu tengah (mesolitikum),alat-alat batu zaman ini sebagian sudah dihaluskan terutama bagian yang dipergunakan. Tembikar juga sudah dikenal. Periode ini juga disebut masaber buru dan meramu makanan tingkat lanjut. Pendukung kebudayaan ini adalah homo sapiens (manusia sekarang), yaitu ras Austromelanosoide (mayoritas) dan Mongoloide (minoritas).

c.      Zaman batu baru (Neolitikum)

Alat-alat batu buatan manusia Zaman batu baru (Neolithicum)sudah diasah atau dipolis sehingga halus dan indah. Di samping tembikar tenun dan batik juga sudah dikenal. Periode ini disebut masa bercocok tanam. Pendukung kebudayaan ini adalah homo sapiens dengan ras Mongoloide (mayoritas) dan ras Austromelanosoide (minoritas).

 

2.     Zaman Logam

Pada zaman Logam orang sudah dapat membuat alat-alat dari logam di samping alat-alat dari batu. Orang sudah mengenal teknik melebur logam, mencetaknya menjadi alat-alat yang diinginkannya. Teknik pembuatan alat logam ada dua macam, yaitu dengan cetakan batu yang disebut bivalve dan dengan cetakan tanah liat dan lilin yang disebut acire perdue. Periode ini juga disebut masa perundagian karena dalam masyarakat timbul golongan undagi yang terampil melakukan pekerjaan tangan. Zaman logam ini dibagi atas:

a.      Zaman tembaga

Orang menggunakan tembaga sebagai alat kebudayaan. Alat kebudayaan ini hanya dikenal di beberapa bagian dunia saja. Di AsiaTenggara (termasuk Indonesia) tidak dikenal istilah zaman tembaga.

b.     Zaman perunggu

Pada zaman ini orang sudah dapat mencampur tembaga dengan timah dengan perbandingan 3 : 10 sehingga diperoleh logam yang lebih keras.

c.      Zaman besi

Pada zaman ini orang sudah dapat melebur besi dari bijinya untuk dituang menjadi alat-alat yang diperlukan. Teknik peleburan besi lebih sulit dari teknik peleburan tembaga maupun perunggu sebab melebur besi membutuhkan panas yang sangat tinggi, yaitu ±3500 °C.


Zaman logam di Indonesia didominasi oleh alat-alat dari perunggu sehingga zaman logam juga disebut zaman perunggu. Alat-alat besi yang ditemukan pada zaman logam jumlahnya sedikit dan bentuknya seperti alat-alat perunggu, sebab kebanyakan alat-alat besi, ditemukan padazaman sejarah.


Antara zaman neolithicum dan zaman logam telah berkembang kebudayaan megalithicum, yaitu kebudayaan yang menggunakan media batu-batu besar sebagai alatnya, bahkan puncak kebudayaan megalithicum justru pada zaman logam.

 

Berdasarkan porses geologi terbentuknya pulau Papua yang baru terbentuk sekitar 60 juta tahun yang lalu, maka sudah tentu bahwa belum adanya homo sapiens (Manusia) yang menempati pulau Papua zaman Pleotosen karena proses terbentuknya pulauPapua bersamaan pada zaman Neozoikum. Sedangkan pada Zaman Pleitosen (zaman manusia purba), Papua masih belum diduduki oleh manusia purba sehingga tidak ditemukan fosil manusia purba seperti penemuan fosil manusia purba di Mojokerto dan Solo dipulau Jawa.

Pithecanthropus Erectus (phitecos = kera, Antropus Manusia, Erectus = berjalan tegak) ditemukan di daerah Trinil, pinggir Bengawan Solo, dekat Ngawi,tahun 1891. Penemuan ini sangat menggemparkan dunia ilmu pengetahuan.[2]

  • Pithecanthropus Majokertensis, ditemukan di daerah Mojokerto.
  • Pithecanthropus Soloensis, ditemukan di daerah Solo.

 



Gambar. 3.2. Fosil Tengkorak Manusia Jawa (Pithecanthropus Erectus) yang ditemukan di Solo

Sumber: http://history1978.wordpress.com/2009/09/06/manusia-purba-di-indonesia/

 

Peninggalan arkeolog yang ditemukandi tepi danau sentani – Jayapura berupa Kapak Batu yang berbentuk lonjong merupakan bukti sejarah bahwa orang Papua hanya berada pada zaman Batu Muda (Neolitikum).

 

 

Gambar. 3.3. Kapak Batu pada Zaman Neolitikum yang ditemukan di Danau Sentani

Sumber:http://history1978.files.wordpress.com/2009/09/sej101_132.gif

 

Sedangkan zaman purba di Jawa mulai berada pada zaman Batu Tua (Paleolitikum). Perbedaan signifikan ini sangat jelas sehingga dapat dibedakan zaman Prasejarah di Papua dan Indonesia serta dapat ditarik kesimpulan mengenai klaim Majapahit yang tidak memiliki bukti sejarah berupa Candi di Papua.

 

 

Gambar. 3.4. Kapak Batu pada Zaman Paleolitikum  yang ditemukan di Jawa

Sumber: http://history1978.files.wordpress.com/2009/09/sej101_051.gif

 

 

 

[1]Prasejarah. Wikipedia Bahasa Indonesia. http://id.wikipedia.org/wiki/Prasejarah#Arkhaikum

[2] Rusdi.2009. Manusia Purba di Indonesia.

http://history1978.wordpress.com/2009/09/06/manusia-purba-di-indonesia/

 


VANUATU SUPPORT WEST PAPUA

Posted on June 27, 2010 at 9:18 AM Comments comments (5)
PARLEMENT OF THE REPUBLIC OF VANUATU
FIRST EXTRAORDINARY SESSION OF THE NINEGHT LEGISLATURE


MOTION NO. 2 OF 2010

Presented by : Hon. Edward Nipake Natapey
                           Prime Ministre and Member of Port  Vila

Seconded by : Hon. Maxime Carlot Korman
                           Leader of the Oposition and MEmber of Port Vila


SUBJECT:

That Vanuatu transmit the Motion attacht as Annex A to the Secretary General of United Nations before of by the start of July 2010 for inclusion in the agenda of this year's session of the General Assembly to be issued by his office on or arround 16 July 2010.

SIGNATURE:

Mover         :     


                                                    

                                                        Hon. Edward Nipake Natapey          
                                                        Prime Ministre and Member of Port  Vila




Seconder :
                                        
                   


Date: 18th June 2010

=======================================================================
                      Vanuatu Propose to International Court of Justice
                       Vanuatu Propose to United Nations


Rss_feed